X-RAY INOVASI TEKNOLOGI PERMINYAKAN INDONESIA

IMG-20121122-002631. PENDAHULUAN
1.1. LAPANGAN MINYAK LEPAS PANTAI TUA YANG MASIH POTENSIAL
Dengan produksi rata-rata d iatas 1.000 barel per hari, X Ray masihlah dapat dianggap sebagai sebuah lapangan minyak lepas pantai yang cukup tua namun cukup menguntungkan bagi Pertamina. Lapangan minyak ini relatif tua(pertama kali memproduksi minyak mentah pada tahun 1976) oleh ARCO, sebuah perusahaan minyak raksasa saat itu dari Amerika serikat. Anjungan ini dahulunya diberi nama Arimbi, yang merupakan salah satu anjungan dari gugusan anjungan minyak lepas pantai di laut utara Jawa bagian barat.
Saat ini, anjungan lepas pantai X-Ray merupakan satu-satunya lapangan minyak lepas pantai laut utara Jawa bagian barat yang dimiliki oleh Pertamina EP setelah proses nasionalisasi lapangan minyak lepas pantai utara barat laut Jawa yang sebelumnya dikelola oleh perusahaan minyak asing seperti ARCO, IAPCO, dll. Sedangkan sebagian besar lainnya dikelola oleh PT. PHE (Pertamina Hulu Energi), yang merupakan anak perusahaan Pertamina.
Anjungan X-Ray terdiri dari 4 remote platform, dimana setiap remote platform memiliki 9 sumur. Remote-remote platform tersebut yaitu, Alpha, Bravo, Delta dan XMA. Saat ini yang masih berproduksi adalah Alpha, Delta dan XMA, sedangkan Bravo, meskipun diperkirakan masih memiliki cadangan minyak dan gas yang cukup besar, tidak lagi berproduksi dikarenakan adanya kebocoran pada MOL menuju platform pengumpul di Alpha.

IMG-20120825-00396
1.1.1. JUMLAH DAN KUALITAS HASIL PRODUKSI
Saat ini pasokan produksi minyak dari X Ray dikirim melalui MOL(Main Oil Line) bawah laut sepanjang sekitar 15Km menuju kilang balongan tiap hari dengan volume sekitar 20.000 barel per hari, di mana rata-rata kandungan minyak sekitar 6,6% dan air sebesar 93,4%. Minyak mentah yang dihasilkan berkualitas relatif lebih baik dibandingkan dengan minyak mentah yang dihasilkan dari lapangan minyak darat sekitar Balongan seperti lapangan minyak Cemara, Jatibarang, Mundu, dsb.
Sedangkan produksi gas dari sumur 5 Alpha dan sumur.. XMA dipergunakan untuk bahan bakar penggerak dua turbin yang menghasilkan energy listrik sebesar 1.000Kw. untuk menghidupi semua aktivitas pada sumur-sumur minyak di X Ray melalui kabel listrik bawah laut.
1.1.2. DISTRIBUSI DAN PERUNTUKAN HASIL PRODUKSI
Minyak mentah selanjutnya disuling di Balongan dan diperuntukkan untuk kebutuhan dalam negeri, seperti ke SPBU-SPBU sekitar Pantura, dan sebagian lagi dikirim keluar negeri seperti ke Negara tujuan Singapura menggunakan kapal minyak yang hilir mudik di sekitar pantai Balongan.
1.2. TENAGA KERJA HANDAL KARENA DITEMPA KETERBATASAN
Selama ini jamaknya, kita hanya mengukur keberhasilan dalam bentuk angka-angka jumlah produksi, termasuk dalam industry migas. Namun kita jarang menilai keberhasilan dalam output lainnya seperti misalnya alih teknologi dalam proses produksi.
Dalam kasus X Ray, Selain sumber daya alam, perlu dicatat, anjungan ini juga menghasilkan tenaga kerja putra bangsa yang handal dan inovatif. Beberapa pihak menyebut mereka sebagai ‘the real Mc. Gyver’, atau bahkan sebagai sekumpulan orang yang lebih inovatif dibandingkan Mc. Gyver(sebuah karakter inovatif dengan menggunakan found objects dalam sebuah film seri televisi). Sebagai asset perusahaan maupun sebagai asset Negara, tenaga kerja di anjungan minyak ini merupakan investasi yang sangat bernilai tinggi, mengingat investasi keahlian adalah vital dalam percepatan dunia industri di alam globalisasi saat ini.
Para pekerja di X-Ray merupakan anomali bagi industri nasional dikarenakan beberapa hal. Sebagian besar dari mereka adalah tenaga kerja yang ditempa keterbatasan dikarenakan pengoperasian peralatan tua serta sering terjadi kerusakan, sehingga mereka terbiasa melakukan trouble shooting agar produksi tetap berjalan, disamping pelatihan khusus sebelumnya di lokasi, di AKAMIGAS Cepu dan bimbingan alih teknologi dari pekerja ARCO saat peralihan kepemilikan. Sebagian kecil lainnya adalah ‘alumnus’ ARCO yang berpengalaman puluhan tahun dengan standard kerja dunia perminyakan internasional; dan sebagian lauiinnya adalah mereka yang mendapatkan pendidikan formal. Secara keseluruhan mereka merupakan sebuah teamwork handal yang saling mengisi, mengasah dan mengasuh dalam produksi minyak dan gas lepas pantai.
Secara team dan secara individual mereka memiliki keterampilan dan pengetahuan yang cukup, serta kiat-kiat yang tepat dalam mengoperasikan anjungan manapun dalam kondisi anjungan yang sangat minimal sekalipun. Selain itu, mereka dapat menjadi sumber penyebaran ilmu pengetahuan dan keahlian dalam produksi minyak dan gas di lepas pantai bagi para calon pekerja lainnya.
2. SEJARAH DAN REALITA KEKINIAN XRAY
2.1. X-RAY DAN PERMINYAKAN LEPAS PANTAI DI LAUT UTARA JAWA
X-Ray pertama kali dioperasikan oleh ARCO pada tahun 1976. Hal ini merupakan lanjutan dari sejarah ekspansi produksi minyak dan gas bumi yang dimulai dari dibangunnya anjungan lepas pantai Cinta, di sekitar kepulaun Seribu, di laut jawa pada tahun 1971. Kemudian jumlah berkembang pesat hingga saat ini mencapai 458 anjungan Migas yang tersebar diseluruh perairan dalam Zona Ekonomi Eksklusif dan Landas Kontinen Republik Indonesia, seperti di laut jawa, Perairan Kalimantan Timur, Perairan Timur Laut Sumatera dan Natuna. Sekitar seperempatnya (170an anjungan) telah relatif tua karena telah berumur lebih dari 20 tahun, termasuk X-Ray, dan 21 anjungan sudah tidak beroperasi atau pasca produksi. (Pusat Riset Teknologi Kelautan, Departemen Kelautan dan Perikanan RI).
Namun, apabila kita tarik ke belakang, keberadaan XRay tidak lepas dari gejolak ekonomi politik dunia saat sebelumnya. Teknologi pengeboran lepas pantai Utara Jawa bagian Barat sudahlah dirintis sejak sepuluh tahun sebelumnya dengan memungkinkannya investasi asing masuk ke dalam sector pertambangan nasional.
2.1.1. KRONOLOGI EKSPLORASI DAN EKSPLOITASI
Era pengeboran lepas pantai dimulai sejak runtuhnya kekuasaan Sukarno yang bersifat over protektif dengan konsep pembangunan ekonomi Berdikari (Berdiri Di Atas Kaki Sendiri) dan anti barat, dikarekan kondisi ekonomi-politik dunia saat itu adalah masa awal ‘perang dingin’ pada 1966.
Sejak itu, konsesi area lepas pantai utara Jawa bagian barat termasuk anjungan XRay beberapa kali berpindah tangan. Awalnya perusahaan-perusahaan besar yang memiliki teknologi tinggi dari Amerika serikat. Selanjutnya setelah era reformasi, tren nasionalisasi pertambangan lepas pantai terjadi, dan Pertamina sebagai BUMN yang memiliki konsesi pengelolaannya hingga saat ini.
Kronologi Eksplorasi dan Eksploitasi Migas Lepas pantai Utara Jawa Bagian Barat
Tahun Momentum Keterangan
1966 IIAPCO dan Pertamina menandatangani Kerjasama Produksi (PSC) untuk konsesi area lepas pantai Utara Jawa Barat (ONWJ). Izin pemerintah menyusul setahun kemudian
1967 Sinclair Exploration Company mendapatkan hak beroperasi untuk ONWJ dari IIAPCO. PSC ONWJ antara IIAPCO dan Pertamina disetujui oleh pemerintah Indonesia
1968 Kapal penggebor R&BE Thornton, unit pengeboran lepas pantai pertama yang memasuki perairan Indonesia mengebor sumur eksplorasi E-1
1969 Penemuan lapangan APN di dekat sumur A-1
1971 Perusahaan Eksplorasi Sinclair secara resmi berubah menjadi Atlantic Richfield Indonesia Inc. Presiden Indonesia Soeharto meresmikan lapangan Ardjuna dari Echo Flow Station pada tanggal 1 September
1972 Lapangan Bravo mulai berproduksi dari anjungan BD
1973 Lapangan Kilo mulai produksi minyak mentah dari anjungan KA
1974 Anjungan LA mulai memproduksi minyak mentah Lima. Lima Flow station selesai mengakumulasi minyak mentah Lima
1975 Lapangan Uniform memulai produksi minyah mentah Ardjuna
1976 Perayaan 100 juta barel produksi minyak mentah Ardjuna. Produksi pertama minyak mentah Arimbi, diproduksi dari lapangan X-Ray. Pembangkit NGL, pembangkit lepas pantai pertama mulai beroperasi
1977 Pengisian LPG Ardjuna Sakti pertama, terobosan penyimpanan LPG
1980 Perayaan 300 juta barel produksi minyak mentah Ardjuna dan pengangkatan ke 1000 minyak mentah Ardjuna
1985 Perayaan 500 juta barel minyak mentah Ardjuna, ZUD 4 dibor, sumur horizontal pertama yang dibor di Indonesia
1986 Pengangkatan ke 2000 minyak mentah Ardjuna dimuat ke penyulingan Cilacap. Produksi pertama minyak mentah Bima dari lapangan Zulu
1987 Menteri Pertambangan dan Energi Indonesia, Prof. Dr. Soebroto, menyaksikan pemuatan minyak mentah Bima pertama ke Jepang
1992 Perjanjian jual beli untuk pasokan gas ke Muara Karang
1993 Pengiriman gas pertama ke fasilitas pembangkit listrik PLN Muara Karang untuk distribusi area Jakarta. Pengiriman gas pertama ke PLN Tanjung Priok
1994 Perayaan 25 tahun operasi ONWJ di Indonesia
1995 ONWJ mencapai satu juta barel produksi minyak pada bulan Mei
1996 ONWJ menerima Penghargaan Lingkungan dari Pertamina. Pengiriman gas pertama ke Perusahaan Gas Negara PGN
1997 Terminal ARCO Ardjuna merayakan yang satu milyar barel pengangkatan minyak mentah Ardjuna
1999 Penghentian produksi Anjungan Arimbi oleh ARCO. Penyerahan anjungan Arimbi kepada Pemda Kabupaten Indramayu.
2000 Gabungan antara BP, Arco, Amoco, dan Burmah Castrol
2001 Perayaan 30 tahun perayaan operasi ONWJ di Indonesia, dihadiri oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bapak Purnomo Yusgiantoro. Dimulainya pengoperasian kembali anjungan Arimbi. Rekrutmen tenaga kerja putra daerah di XRay
2002 November 7, menerima ISO 14001 pertama untuk fasilitas lepas pantai pertama di Bravo dan kompleks pemnbangkit.
2004 1 Juni, menerima ISO 14001 di area Mike Mike—Jawa Barat
2005 Pengiriman pertama gas APN pada tanggal 17 Agustus. Seluruh sumur (lima sumur di tiga anjungan) aktif pada tanggal 2 September, dengan kecepatan total 110 mmscf/hari
2006 Penandatanganan perjanjian jual beli gas untuk pasokan gas ke Pupuk Kujang
2008 Februari 2008, menyelesaikan Onshore Receiving (ORF) dan modifikasi Perencanaan Sentral untuk pasokan gas ke Pupuk Kujang. Peringkat “Hijau” pada Program Performance Environment Rating (PROPER) dari Kementerian Lingkungan Hidup
2009 Juli 2009, divestasi BP West Java ltd. dari BP menjadi Pertamina, diikuti dengan perubahan nama perusahaan menjadi Pertamina Hulu Energi ONWJ ltd.
2010 September 2009, penandatanganan perjanjian untuk tambahan pasokan gas dengan PLN. Penandatanganan perjanjian gas untuk tambahan pasokan ke PGN sampai akhir tahun 2010. Menerima penghargaan di bidang pengembangan masyarakat – Adibakti Mina Bahari tahun 2010 dari Pemerintah Daerah Kabupaten Indramayu. Menerima penghargaan di bidang HSE untuk 2010 Zero Accident Award untuk pencapaian 12 juta Jam Kerja tanpa kecelakaan dari Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi
2011 Penerimaan Penghargaan Nihil Kecelakaan dari Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi untuk pencapaian 9 juta jam kerja. Penerimaan penghargaan dari BPMIGAS atas Keselamatan dan Kesehatan Kerja serta Lindungan Lingkungan (K3LL) untuk kriteria KKKS dengan 5-10 juta jam kerja per tahun. PHE
2012 Pembubaran BPMIGAS. Permasalahan Kebocoran MOL(Main Oil Line) to Balongan dari X-RAY
2013 Permasalahan Kebocoran MOL(Main Oil Line) to Balongan dari X-RAY sejak Agustus 2012
Sumber:
1. Wawancara dengan para pekerja XRay
2. Website Pertamina EP
3. Profil Perusahaan Pertamina Hulu Energi ONWJ BAB 3
4. Media massa Nasional

2.1.2. REFORMASI DAN NASIONALISASI INDUSTRI MINYAK DI LAUT UTARA JAWA
Saat ini, hanya anjungan XRay yang masih dikelola oleh Pertamina EP dengan kepemilikan sebesar 100%, sedangkan Sebagian besar anjungan lepas pantai utara Laut Jawa bagian barat dikelola oleh Pertamina Hulu Energi ONWJ(Offshore North West Java) sebagai anak perusahaan Pertamina bersama beberapa perusahaan penanam modal lainnya.
Kepemilikan PHE ONWJ
No. Perusahaan Kepemilikan saham
1 PT. PERTAMINA HULU ENERGI ONWJ 53,2500 %
2 EMP ONWJ Ltd. 36,7205 %
3 Risco Energy ONWJ B.V. 5,0000 %
4 Talisman Resources (North West Java) LTD. 5,0295 %

2.2. PERKEMBANGAN PERTAMINA SEBAGAI PENGELOLA X RAY
2.2.1. PERTAMINA EP
Perusahaan yang menyelenggarakan kegiatan usaha di sektor hulu bidang minyak dan gas bumi meliputi eksplorasi dan eksploitasi. Saat ini produksi 120rb barrel oil per day (bopd) dan 1.003 milion standard cubic feet per day (mmscfd).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s