“Televisi telah menjadi agama masyarakat industri!”/ Mayang Sari

"TV worshipping" / revitriyoso Husodo

Gertakan George Gerbner, pakar komunikasi dan televisi itu bukan sekadar sesumbar. Sebagai “agama baru” ritual TV diikuti dengan khidmat. “Jemaahnya” datang berbondong-bondong dari berbagai pelosok dan kalangan. Mereka rela antre berjam-jam untuk bisa masuk mengikuti ritual pemberkatan The Master”, “Indonesian Idol”, “Mamamia”, atau “Dream Girl”. Yang tidak bisa datang langsung, mereka mengikuti ritual bersama di depan TV tanpa kehilangan kontak dan sugesti. Para “pengkhotbah” ritual tersebut tak lupa menyapa mereka lewat kuis berhadiah. Di lain bentuk, ritual TV mampu menggerakkah hati jemaahnya sehingga tidak jarang membuat mereka menitikkan air mata saat “Bedah Rumah”, “Minta Tolong”atau “Utangku Lunas” diceramahkan dalam bentuk visual. Kekhidmatan yang kadang jauh lebih menggetarkan daripada mendengarkan khotbah di rumah ibadah. Hipnotisme TV mampu menyugesti segala lapisan masyarakat dan melarutkan mereka dalam ekstase hedonisme yang berkedok humanis yang estetis.

Lalu apa salahnya?

Tidak ada, selama anak-anak tidak kehilangan kemampuan berkonsentrasinya (menurut penelitian: anak-anak hanya mampu berkonsentrasi selama 7 menit, persis jeda waktu dari satu iklan ke iklan lainnya). Anak-anak tidak kehilangan kreativitas dan imajinasinya. Anak-anak tidak dewasa secara seksual lebih cepat. Anak-anak tidak meniru perilaku main tampar, menghina, memfitnah dengan licik seperti sinetron anak-anak (versi industri TV).

Tidak ada salahnya, jika bullying tidak terjadi di sekolah. Kekerasan dan kriminalitas tidak mereka lakukan sebagai praktik meniru rekonstruksi pembunuhan yang mereka pelajari dari “Delik”, “Investigasi” atau “Sergap”.

Tidak ada salahnya jika pelecehan seksual dan mutilasi tidak menjamur. Para remaja merasa tabu berduaan apalagi bermesraan di depan umum. Anak-anak dan para istri tidak merengek minta dibelikan barang-barang komoditi yang memicu percepatan pola konsumtif. Para bapak dan ibu tidak korupsi guna memenuhi rengekkan keluarga. Generasi muda tidak merasa modern kalau tidak mengikuti tend: menggunakan ekstasi, pergaulan bebas, kawin-cerai, dan sebagainya. Sementara itu, tidak ada salahnya jika warga masyarakat tidak kejangkitan hobi saling menggunjingkan tetangga, menyebar fitnah yang penuh bumbu-bumbu penyedap cerita. Tidak ada salahnya jika rating tayangan yang berbau mistik, seks, gosip tidak melambung tinggi bahkan sebaliknya sepi dari perhatian penontonnya. Pendek kata, tidak ada yang salah dengan TV, jika kehidupan dan kebudayaan masyarakat tidak tercerabut dari akarnya.

Lantas, apa kita harus menolak kehadiran TV?

Tidak juga. TV telah hidup bersama masyarakat dan mengambil peran tersendiri dalam kehidupan. TV menjadi sahabat bagi orang yang kesepian dan insomnia. TV menjadi “ibu asuh” bagi para orang tua yang sibuk dan mementingkan dirinya ketimbang anaknya. TV menjadi guru yang banyak memberikan pengetahuan dan contoh-contoh yang menarik. TV menjadi hakim yang memutuskan siapa yang menang dan yang kalah, yang benar dan yang salah. TV adalah “rohaniwan” yang mewartakan kebenaran dan nilai-nilai utopi yang semu. TV adalah master mentalist sekaligus master hipnotis yang mampu menggerakkan bawah sadar khalayaknya.

“Kotak ajaib” itu berhasil melegitimasi dirinya bahwa ia sangat dibutuhkan. TV telah membudaya. Tradisi Barat yang didominasi oleh kekerasan ala koboi dan mafia merasuk dan menjajah pusat kesadaran. Kecanggihannya mampu mematikan kearifan lokal dan menggerus nilai-nilai luhur yang selama ini menjadi falsafah bangsa. Kebenaran yang diombang-ambingkan dalam ketidakpastian sengaja dibuat membingungkan agar manusia terbuka terhadap perubahan dan takluk sebagai tawanan industri media yang telah menggurita. Di lain pihak, tontonan selera rendah telah menjadi saluran katarsis dari generasi muda yang mulai tercerabut dari budaya Timur-nya. Luar bi(n)asa!

Haruskah kita diam?

Pesona hedonisme dengan pemujaan dunia gemerlap telah di ambang titik kulminasi yang akan melumpuhkan kesadaran kritis masyarakat. Jika dibiarkan, megaproyek dehumanisasi dan etnogenocide (pembunuhan budaya) mendekati tahap akhir keberhasilannya.

Bagaimana caranya?

Bangkitkan kembali kesadaran kritis kita dari lena mimpi dan tidur pulasnya. Mengapa? Tanpa adanya kesadaran, manusia tidak dapat mengambil jarak dengan objek di sekelilingnya. Tanpa memiliki kesadaran, manusia akan larut dalam hegemoni budaya yang membunuhnya secara perlahan namun pasti.

Kesadaran akan menuntun manusia untuk menemukan kebenaran dan mampu menyingkap fakta di balik realita. Kesadaran membuat manusia mawas dan waspada dari segala bentuk bujukan. Kesadaran mengajak manusia untuk selalu berpikir dan berpikir sebelum bertindak dan memutuskan.

Jangan biarkan mesin pembunuh budaya itu mematikan kesadaran kritis kita. Tugas kita semua untuk menempatkan kembali kesadaran kristis sebagai mahkota tak ternilai yang dianugrahkan Sang Pencipta untuk makhluknya yang berbudaya dan bermartabat: manusia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s