MENCARI MANUSIA SUNDA (CIHIDEUNG UDIK) PERTAMA (2)/Revitriyoso Husodo

Peradaban sungai di tatar Sunda

Prasasti-prasati yang terpahat di atas batu-batu kali peninggalan kerajaan Tarum atau Tarumanegara yang tersebar di wilayah Banten, Jawa barat dan DKI Jakarta pada abad ke-4 menunjukkan bangsa Sunda sudah tersebar dan berbudaya cukup tinggi. Peradaban ini tentunya tidak seketika tercipta saat peninggalan-peninggalan sejarahnya dibuat. Sangat besar kemungkinan peradaban sudah berkembang ribuan tahun mendahuluinya, artinya, wilayah subur dilereng-lereng gunung vulkanik yang tertidur ini mungkin saja telah terserak peradaban yang maju sebelum parthenon-parthenon Yunani kuno didirakan seiring kebangktan awal filsafat barat yang melahirkan kebudayaan berazas demokrasi di Athena pada abad ke-5 sebelum masehi.

Plang nama musium Kebon Kopi/ Revitriyoso Husodo

Batu Dakon Ciaruteun / revitriyoso Husodo

Batu Dakon Ciaruteun / revitriyoso Husodo

Setidaknya di pelosok sepanjang sungai Ciareuten lebih dari 1.500 tahun yang lalu, pernah ada sebuah peradaban yang menggunakan media tulis untuk menyampaikan kepada ruang dan waktu tentang keberadaannya, meskipun masih dalam kepentingan penguasa saat itu. Pada batu tapak kaki raja terdapat aksara Sunda kuno bentuk perkembangan huruf Pallawa dari Kamboja kuno dalam bahasa Sansekerta : “vikkrantasyavanipateh shrimatah purnavarmmanah tarumanagarendrasya vishnoriva padadvayam”terjemahannya menurut Vogel: “Kedua (jejak) telapak kaki yang seperti (telapak kaki) Wisnu ini kepunyaan raja dunia yang gagah berani yang termashur Purnawarman penguasa Tarumanagara.”Dan tulisan pengagungan raja oleh pujangganya di batu ‘tapak kaki gajah’: “ jayavi s halasya tarumendrsaya hastinah airavatabhasya vibhatidam padadvayam”Terjemahannya: “Kedua jejak telapak kaki adalah jejak kaki gajah yang cemerlang seperti Airawata kepunyaan penguasa Tarumanagara yang jaya dan berkuasa.”

Prasati Ciaruteun / Revitriyoso Husodo

Sebuah statmen yang tegas akan penguasaan dipesisir aliran sungai Ciareuten ‘dermaga’ sungai yang menjadi urat nadi perekonomian berbasiskan pertanian, peternakan dan hasil alam lainnya setidaknya hingga abad 19 merupakan jaur kopi menuju Batavia dan eropa sebagai tujuan akhir produk.

Prasasti tapak kaki gajah / Revitriyoso Husodo

Prasasti tapak kaki gajah / Revitriyoso Husodo

anak Sunda-Jawa dan Batu Dakon / Revitriyoso Husodo

anak Sunda-Jawa dan Batu Dakon / Revitriyoso Husodo

Serakan peninggalan sejarah di sepanjang aliran sungai Cisadane, Cianten dan Ciaruteun hingga prasati Tugu di Kampung Batutumbu, Desa Tugu, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasidapat menggambarkan betapa saat itu penguasa telah menggunakan armada hewan gajah yang besar dan kuat dan dihiasi rumbai-rumbai dominan warna biru dan ribuan pasukan pengawal raja beratribut dominan warna biru untuk menunjukkan keberadaan kerajaan Tarumanegara. Bukankah kerajaan ini adalah penghasil tarum yang tidak lain adalah tumbuhan bahan pewarna biru bagi kain. Dalam hindu, Dewa Wisnu digambarkan berwarna biru, dan Tarumanegara adalah kerajaan Hindu Wisnu yang memelihara kehidupan di antara gunung vulkanik yang tertidur dalam kesuburan dan dalam jeda ribuan tahun hingga letusan berikutnya, yang entah kapan lagi akan terjadi.

pasar ciampea

pasar Ciampea

sumber:

napak tilas pribadi, 2009-2010

wawancara dengan masyarakat Leuwiliyang, Bogor Barat, 2010

Wawancara dengan masyarakat Ciaruteun, 2010

http://indonesiadulu.wordpress.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s