HOME, HILANGNYA TEKS DALAM LEDAKAN PENGABARAN ISU LINGKUNGAN/resensi fim “Home” karya Yann Arthus-Bertrand oleh Revitriyoso Husodo

http://www.youtube.com/watch?v=jqxENMKaeCU&feature=player_detailpage

resensi fim “Home” karya Yann Arthus-Bertrand

There is enough on Earth for everybody’s need, but not enough for everybody’s greed.”

Mohandas Gandhi

Keajaiban terjadi di jagad, muncul sekitar 4 milyar tahun yang lalu, manusia baru muncul 200.000 tahun yang lalu, tapi kita berhasil mengganggu yang menjadi inti hidup.”

subttitle narasi film dokumenter “Home”

Kami sendirian di alam semesta, setidaknya hingga saat ini, dan kami sedang menuju kepunahan, demikian kira-kira isi semua kepala setelah memirsa film dokumenter lingkungan hidup Home karya sutradara Yann Arthus-Bertrand dan diproduseri oleh Denis Carot dan Luc Besson. Tidak memandang kepala tersebut memiliki idealisme apa. Memang film ini hanya bertujuan penyadaran akan ancaman kehancuran alam yang dihuninya. Tidak sampai pada tataran ideologi ekonomi-politik apa penyebebabnya, dan darimana harus dimulai, dibagian akhir film terbaca di benak: “hanya ada satu kata, optimis!”

Bumi mengingatkan kita pada lukisan karya Jackson Pollock, pelukis abstrak yang mengaku tidak mengatur komposisi warna maupun bentuk di atas kanvas itu, berentet dengan jejeran dalam rentang waktu tayang gambar chaotic sebaran bentuk geometris campur tangan manusia pada wajah planet satu ini pasti mengejutkan kita bahwa Bumi demikian hidup, indah dan sekarat dalam film dokumenter Home yang dibuat dengan biaya sekitar 120 miyar rupiah, cukup besar namun tidak seberapa dibanding film fiksi Hollywood, Waterworld karya Kevin Costner yang menelan dana sekitar 2 triliyun rupiah. Hampir saja terjatuh kelelahan namun tiada mudah untuk mengedipkan mata, karena begitu mencekamnya keindahan gambar photografik lanskapik realita bumi ‘yang lain’ sembari dituntun kelembutan suara nenek cantik bak represenrasi dari ibu Bumi, Glenn Close sang narator selama dua jam. Film ini begitu mudah dicerna teori-teori tentang gerak alam dan ancaman ketidak seimbangan alam yang mengerikan.

Rahasia teknik Sihir Film Dokumenter

Seorang filsuf Perancis, Henry Bergson(1859-1941) merespon perkembangan dunia pertunjukan yang mulai dihuni oleh fotografi dan menyempurnakan diri menjadi fotografi bergerak atau film dalam bukunya Matery And Memory, menyatakan bahwa kita harus merubah persepsi ketika gambar bergerak. Gambar bergerak akan melahirkan nyawa yang berbeda dari fotografi potret yang sedang marak saat itu. Setelah teknologi film atau gambar hidup ditemukan dan dikembangkan, mulailah digunakannya film sebagai media dokumentasi setidaknya sejak film Nanook of the North (1922) karya Robert Flaherty, dan setelah The Moviegoer, nama samaran John Grierson meresensi film bergenre docufiction“Moana”, sebuah film yang dapat dikategorikan sebagai film dokumenter pertama bercerita tentang kehidupan seorang pemuda bernama Moana (dalam bahasa samoa bermakna lautan) juga karya ‘bapak film dokumenter’, Robert Flaherty (1926). Istilah dokumenter sediri berasal dari kata Documentary dalam bahasa Inggris dan dari kata documentaire dalam bahasa perancis yang bermaknakan catatan realitas dalam perjalanan. Namun dalam peristilahan dunia perfilman, dokumenter lebih merujuk kepada genre film yang meninggikan keotentikan gambar dan kesahihan muatan tema sebagai nyawa yang disodorkan. Di dalam film Home, pemirsa berusaha dipastikan tidak dapat menolak fakta-fakta yang dijejalkan kedalam indra penglihatan yang membentuk sebuah keyakinan bahwa kejadian memang seperti yang dialami. Hal ini dilakukan melalu beberapa teknik.

Gambar Bergerak

Home dapat dikatakan sebagai rangkaian panjang fotografi bergerak yang diambil dengan teknik dan estetik tinggi dari seorang Yann Arthus-Bertrand. Lebih spesifik lagi film bird eye film. Dia mencoba untuk memisahkan bumi dari detailnya, coba perhatikan, semua gambar diambil dengan teknik longshot dan wide angle! Kelebihan dari teknik ini adalah kurangnya detil dari subject sehingga membentuk lanskap dengan komposisi dan warna yang dekoratif, wawasan luas karena hampir sealu menangkap horizon bumi, sehingga memberi kesan pemandangan sempurna dari alam yang ia ambil gambar. Dengan demikian ia kehilangan detail yang sebenarnya dapat diperkaya dengan penggunaan teknik pengambilan gambar dalam medium , close up, extreem close up atau bahkan hingga menggunakan lensa makro untuk memotret kehidupan mikrosmos dari proses perubahan iklim. Gambar-gambar seperti ekspresi selembar daun yang kekeringan, ataupun proses molekuler pelepasan uap air dari tanah sebenarnya dapat mendorong pemirsa semakin menyentuh dengan semakin mengerti proses pemanasan suhu bumi. Atau permukaan kulit seorang yang kekurangan nutrisi di dalam film ini. Tapi memang nampaknya teknik pengambilan gambar yang ‘berjarak’ sengaja diambil olehnya. Gambar tidak pernah lebih dekat dari tiga meter dari obyek yang diambil. Bak rentetan fotografi bergerak dari seorang maestro fotografi sekaligus aktifis lingkungan, Ansel Adams yang hidup berwarna dan disusun rapi menuju sebuah pemahaman yang komprehensif tentang bumi. Toh tidak semua orang harus menjadi maestro di semua teknik pengambilan gambar.

Audio Dan Narasi

Dalam teori suara berpengaruh pada psikologi sang pendengar. Pengaruh suara dapat dijabarkan berdasarkan kualitas suara dalam tala (tinggi nada), durasi (beberapa lama suara ada), intensitas dan timbre (warna bunyi). Mengapa kita begitu terpana dengan film satu ini, salah satu alasannya adalah kepandaian dalam penggabungan backsound musik Enygma yang mengalunkan nada pelan purbawi sesekali ditimpali suara alam dengan gambar bergerak pelan. Penggunaan audio yang dikolaborasikan dengan gambar bergerak, merupakan unsur yang penting dan tiada dapat terpisahkan dalam menjaga tempo dan rythm sesuai ketukan detak jantung manusia pada sebuah film. Dengan memelankan detak jantung, sedemikian rupa sehingga pasokan darah ke otak pun membuat kerja otak lebih dalam keadaan kontemplatif.

Setelah itu, unsur suara berupa narasi yang sangat teliti disusun yang diekspresikan oleh seorang glenn Close, penyanyi teater sekaligus aktris lima kali nominator piala Oscar, menyuratkan tanpa terburu-buru pemahaman realita yang dibentuk. Urutan dari penyampaian teori asal usul alam dan unsur-unsur keghidupan dibumi; kemudian beralih ke era terbentuknya kehidupan; selanjutnya, berpindah ke terbentuknya peradaban manusia; revolusi pertanian, revolusi industri, hingga malapetaka iklim terbungkus dengan rapi. Terlalu rapi sehingga kita hanya tertegun, yang seharusnya tidak amarah sebagai respon dari kerusakan alam yang mengancam masa depan anak cucu kita.

Rekayasa editing Video

Penggunaan kemajuan teknik editing gambar dalam perfilm berhasil mendorong emosi pemirsa seperti yang diinginkan oleh sang pembuat. Revolusi digital telah melahirkan program-program editing nan canggih seperti Avid atau Final cut Pro dibandingkan industri film sebelumnya yang benar benar potong-sambung gulungan seluloid, dunia perfilman kemudian tidak pernah sama lagi. Editing pada time lap membuat orang terayun lembut dalam membicarakan tema kerusakan alam dengan nyaman dan tanpa penyangkalan. Tiada memancing kemarahan, hanya mendorong sikap pesimis menjadi optimis dari penonton.

Sedangkan dengan merubah warna asli dari kenyataan menjadi warna dramatik akan mempengaruhi emosi pemirsa. Banyak bagian dari film ini, saya mencurigai telah berubah warna aslinya. Warna didorong ke warna-warna saturated menuju warna dasar seperti merah, kuning dan biru, atau hijau. Seperti pada gambar pada menit ke-52 dari film ini, gambar kerusakan punggung bukit di Madagaskar yang terkeruk dengan warna merah seperti luka borok pada seorang kulit putih yang memerah muda karena infeksi membuat rasa jijik. Contoh lain adalah penggunaan teknik contrasting pada gelap terang yang didorong menjadi ekstrim pada gambar agak bergerak serpihan es tipis-tipis yang mengapung pada laut hitam pekat sehingga membentuk mozaik semacam pecahan kaca bersudut-sudut tajam mengiris-iris hati.

Audio Visual Menggantikan Peran Media Berita Lama

Film dokumenter lingkungan hidup termasuk genre film dokumenter yang belakangan ini semakin menunjukkan fungsinya sebagai media pengabar dan pembentuk kesadaran masyarakat dunia. Perpaduan antara tema dan ruang dalam memirsa film dokumenter semakin berkembang dalam merambah audiens seluas-luasnya menjadi kecenderungan baru. Seperti Home dengan teknik perfilman dengan cita rasa perancis, indah, pelan dan menghanyutkan dalam format dan durasi layar lembar telah menhipnotis para pemirsa awam pecinta bioskop, sekaligus dapat dijadikan bahan perdebatan dan kontemplasi para aktifis lingkungan hidup di ruang-ruang alternatif seperti sekretariat-sekretariat organisasi pecinta alam, kantor-kantor LSM lingkungan hidup bahkan bagi mereka yang anti sosial dengan mengurung diri di ruang private mereka masing-masing. Begitu massalnya, ada sementara pihak meyakini penggunaan media film dokumneter jauh lebih mempengaruhi kesadaran massa dari pada melalui media cetak maupun radio. Beberapa penelitian penggunaan film dokumenter turut menurunkan jumlah judul buku yang diterbitkan di dunia.

Teknologi pemberitaan tentang lingkungan hidup telah mengalami rentetan tahapan penyempurnaan, dimana daya penyampaiannya semakin menyentuh dan massal melalui indra yang kita miliki. Setelah teknologi audio visual tumbuh, berkembang pulalah fungsi film yang sebelumnya hanya sebagai media hiburan menjadi media dokumentasi hingga media penyampai pesan programatik permasalahan lingkungan hidup. Dari film seluloid berangsur eksodus menggunakan bahasa binari digital. Dari budaya lisan menjadi budaya tulis. Dari roll film berganti menjadi Keping-keping DVD, dan belakangan ke Youtube dan sejenisnya. Semakin mudah dan massal diakses di setiap kamar dan setiap genggam alat komunikasi, layar televisi dan papan iklan hidup di jalan-jalan raya.

Dahulu orang harus berguru pada para filsuf di puncak-puncak gunung, atau di klub-klub elit dan tertutup untuk dapat membayangkan bagaimana bumi menggeliat, sekarang hanya melalui memirsa Home, wawasan dan fakta fotografis menarik untuk dicerna. Jumlah film dokumenter pun membesar. Film-film layar lebarpun mulai terpengaruh untuk mengangkat isu lingkungan seiring dengan menjamurnya Festival film bertema lingkungan.

Perihal Etika dan Estetika Fungsi Film Dokumenter pemberitaan alam

Etika dan estetika adalah dua hal yang saling terkait dalam sebuah karya film dokumenter. Etika berasal dari kata “ethos” (Yunani) yang berarti adat kebiasaan yang dapat dinilai sebagai baik atau buruk bagi masyarakat. Baik buruknya sebuah karya yang disajikan sehingga apa yang dianggap tinggi estetik juga mengandung semua aspek dalam pembuatannya seperti aspek keberpihakan, aspek teknik, aspek estetik, aspek ideologi hingga aspek politis yang terkandung di dalamnya. Sebuah film dokumenter yang bertujuan untuk menciptakan realitas yang palsu, walau sedahsyat apapun karya itu bisa disebut sebagai sampah bervirus yang berbahaya. Diktum “segala sesuatu tidak bebas nilai” tentu juga berlaku pada tujuan pembuatan sebuah film dokumenter. Sebagai senjata efektif pembentuk kesadaran massal ini tentunya sebaiknya sebuah film dokumenter memiliki keberpihakan kepada kepentingan kelangsungan perkembangan umat manusia secara universal, tidak untuk kepentingan segelintir orang. Sebuah film dengan subjek yang sama ditangan pembuat film dokumenter yang berbeda, dapat membentuk kesadaran yang bertentangan dengan pembuat yang lainnya.

Pemberitaan Yang Berpihak

Ketika film dokumenter memiliki kehebatan dalam merebut perhatian dan kemudian mempengaruhi kesadaran massa, maka bak senjata yang ampuh sebaiknya harus digunakan unmtuk kepentingan masyarakat banyak. Sejarah telah belajar bagaimana Adolf Hitler telah menggunakannya untuk propaganda bahwa bangsa Arya adalah bangsa terhebat dari segi fisik dan dan otaknya terlanjur menjadi kesadaran umum. Hal ini terjadi bisa dikarenakan film dokumenter Triump of the Will (1934) dan Olympia (1936) karya sineas wanita Leni Riefenstahl, digunakan sebagai alat propaganda Nazi dan diputar berulang-ulang. Dalam film Olympia ia menggambarkan bahwa atlet-atlet Jerman di Olimpiade seolah memiliki genetik unggul daripada bangsa lain di dunia.

Dalam Home, terlihat keberpihakannya cukup bagus dengan penggambaran bahwa industri besar telah menjadi pengandil terbesar penyebab perubahan iklim. Namun seolah dalam film ini kita menangkap permasalahan ini diakibatkan oleh kerakusan manusia di bumi secara keseluruhan. Tidak ada upaya menggambarkan bahwa ideologi pembangunan telah mendorong industri-industri raksasa berlomba memproduksi lebih banyah produk dari yang dibutuhkan oleh umat manusia, sehingga terjadilah sebuah situasi yang sering disebut sebagai overproduksi, sementara alam menjadi ‘sapi perah’ yang semakin dijarah dan knalpot industri yang semakin memanaskan suhunya.

Ekofasisme

Pemberitaan yang berlebihan dengan mengatas namakan lingkungan hidup adalah langkah yang sebaliknya kontra produktif terhadap kemanusiaan. Semisal, memprioritaskan perlindungan alam meskipun harus mengorbankan kehidupan ekonomi masyarakat yang tinggal di dalamnya. Semisal, demi perlindungan jenis ikan tertentu, maka nelayan lokal tidak diperkenankan melaut di wilayah zona larang tangkap tanpa kompromi. Contoh lain adalah pelarangan bagi masyarakat suku Kubu yang dilarang untuk melakukan peladangan berpindah dengan alasan pembakaran hutan di pulau Sumatera. Padahal apabila kita perhatian benar suku ini telah memiliki teknologi perencanaan peladangan tingkat tingga sehingga ruang hutan tetap lestari selama ribuan tahun. Bandingkan dengan perusahaan-perusahaan raksasa kelapa sawit yang hanya dalam hitungan tahun telah membabat hutan membakar hutan kemudian memonokulturkan hutan dalam jumlah jutaan hektar. Film dokumenter yang meninggikan keberpihakan pada kecenderungan-kecenderungan pemahaman di atas tentunya dapat dikatakan tidak etis, meski dibuat se estetis mungkin.

Jawaban Bagi Ancaman Kiamat Bumi

Sebagai sebuah film dokumenter tentang ancaman kehancuran planet bumi, Home sudah mendekati tahap kesempurnaan, namun tentuntya perlu langkah-langkah lanjutan untuk penyempurnaan. Langkah-langkah tersebut bisa dibagi menjadi dua tugas berbeda dari dua pihak yang berbeda pula. Pertama, bagi para pekerja film dokumenter, terlahirnya film ini menjadi tantangan untuk menyempurnakannya dalam hal menjadikan dunia film dokumenter ‘bicara merubah keburukan menjadi kebaikan’ dengan semangat saling melengkapi demi tujuan dari film ini sendiri. Film-film dokumenter ‘lanjutan’ seperti film yang lebih men‘close up’ atau ‘extreem close up’ baik dalam makna gambar maupun dalam hal makna dari gambar tersebut. Misalkan gambar tentang ekstrim wajah anak nelayan yang mengalami malnutrus akut akibat kesejahteraan yang tidak merata. Sehingga pemirsa dapat membaca bahwa, kerusakan alam terjadi secara sistematis. Sehingga sang film dapat mendorong pemirsa memahami akar masalah lingkungan hidup dan keserakahan umat manusia.

Kedua, bagaimana pihak pemirsa harus juga meningkatkan daya kritis dalam memahami sebuah film dokumenter berangkat dari mana dan kemana is dibuat. Sehingga dengan demikian, pemirsa dapat memberikan apresiasi yang baik pada sebuah film yang memiliki kaidah-kaidah kebaikan baik dalam bentuk maupun dalam semangat atau nyawa film itu dibuat. Sebaliknya pemirsa akan dapat dengan mudah menolak sebuah film yang sedemikian estetisnya dalam bentuk namun memiliki semangat yang merugikan bagi keselamatan bumi dan lapisan biosfer di permukaannya. Dan, yang paling ideal adalah apabila pemirsa akan dapat menghayati; terbangun keyakinan sehingga mendorong mereka bergerak secara nyata dan massal untuk menyelamatkan bumi setelah memirsa sebuah film yang berestetika tinggi dalam bentuk, berspiritkan semangat dan kejeniusan dalam memberikan solusi bagi penyelamatan bumi dari kehancuran yang diakibatkan oleh kerakusan umat manusia, yang mengakibatkan industrialisasi yang tidak terkontrol; lonjakan jumlah knalpot industri beremisi karbon tinggi; pembabatan hutan; pengelupasan permukaan tanah subur; pengrusakan terumbu karang; pencemaran akibat penambangan; krisis air bersih; rentetan kepunahan keaneka ragaman hayati; pelelehan es di kutub; peningkatan permukaan air laut. Solusi kemudian dapat berupa kritik tajam terhadap peninjauan ulang pemahaman ekonomi pembangunan yang hanya mengejar target pertumbuhan, pertumbuhan yang hanya mengejar profit sebesar-besarnya; pemerintah yang tidak serius menanggapi narasi besar perubahan iklim; pemerintah daerah yang menjadi raja-raja kecil yang tutup mata pada pengrusakan alam dan pada ujungnya, tren kesadaran yang tidak mengindahkan pemerataan hasil dari mengapa homo sapiens sapiens berkembang lebih sempurna yang berparadoks pada hasil akhir pencapaian evolusinya saat ini yaitu pemiskinan massal dan kerusakan lingkungan hidup menuju kiamat bumi. Dengan demikian dalam membuat perubahan menuju kondisi bumi yang lebih baik, tidak cukup hanya dengan kata: Optimis!

2 thoughts on “HOME, HILANGNYA TEKS DALAM LEDAKAN PENGABARAN ISU LINGKUNGAN/resensi fim “Home” karya Yann Arthus-Bertrand oleh Revitriyoso Husodo

  1. Salut Mas Revi!
    Kaya wawasan, ….mengisi penuh ruang kognisi dan imajiku.
    Terima kasih banyak atas “rekreasi estetis” yang sangat eksotis ini.

    Salam Bumi Bagus.

    • Terima kasih Mbak Mayang atas tanggapannya, meskipun mohon maaf masih kurang sempurna dalam penulisannya ya. Salam Bumi Bagus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s