“TRITURA (TIGA TUNTUTAN RASA): REALISME KONTEMPORER”/ Revitriyoso Husodo

"Ekstra Parlementer" Karya: Sumarwan

Kuratorial Pameran Senirupa: “TRITURA” oleh Revitriyoso Husodo

Sudah agak beberapa lama, Yogya tidak lagi berwajahkan seperti sebutan semula, yaitu sebuah ‘kubu’ seni rupa kerakyatan yang kasar, atraktif nan revolusioner. Ini juga merupakan alamiahnya yogya sebagai sebuah kota yang kritis namun juga dinamis. Seni rupa realisme sosial telah bergeser melalui percepatan yang tiada dapat dibayangkan sejak semula, dan yogya masih tetap dapat menitinya tanpa mesti terjerembab di dalam pusaran sang percepatan globalisasi ekonomi politik dunia yang semakin melokal. Secara historis, setelah melalui era pengusungan realisme revolusioner masa penegakan kemerdekaan; setelah era realisme sosialis jaman perang dingin; sejak jaman neorealisme sosialis reformasi, maka ini saatnya seni rupa Yogya sampailah pada ruas realisme kontemporer.

"Freedom To Parametre"

Secara umum seni kontemporer dapat dilihat dari tiga sifat utamanya. Pertama, seni kontemporer terbebas dari sekat-sekat disiplin seni seperti seni rupa, patung, photografi, teater, pemikiran nihilis bahkan kegiatan ekonomi dan politik sekalipun, yang sebelumnya relatif tabu untuk dicampur adukkan untuk mencapai tinggi estetiknya. Kedua, ia memiliki dorongan moralistik dalam berkarya sehingga sering kali ia menyampaikan pesan-pesan sosial  politis sebagai betuk respon terhadap realitas yang ada. Ketiga, memang dalam seni rupa ia sangat atraktif bagi media massa dalam pelontaran wacana dalam berkesenian sehingga dengan sendirinya ‘tergoreng’ dan hangat untuk diperdagangkan.

Seni rupa kontemporer yang mereka kanvaskan tidak lain dari seni yang terlepas dari pakem masa sebelumnya dan lebih memuja kekinian (co:bersama, tempo:waktu), namun entah bagaimana nyawa realis Yogya lama masih saja melekat. Kekinian seni rupa tersebut tidak lepas dari pengaruh fungsi karya lukis tersebut terutama fungsi sebagai media dekorasi interior ruang, dimana setiap individu semakin memandang penting ruang-ruang privat mereka. Ketika ruang-ruang terpengaruh oleh aliran modernisme terutama desain rumah minimalis bagi kaum urban kelas ekonomi menengah dan atas, maka seni demikian telah meleburkan pengelompokan fine art (seni murni sebagai benda seni) dan applied art (seni pakai).

Dengan peleburan ini dan semakin interaktifnya elemen-elemen di dalamnya, dunia seni rupa dunia terutama di Indonesia, spesifiknya Yogyakarta mengalami pasang naik baik dalam demand maupun supplynya. Belum lagi terpuruknya industri sektor riil seperti menurunnya permintaan pasokan tembakau, garmen, dan industri manufaktur dalam negeri lainnya yang mendorong pelaku ekonomi mengalihkan atau memperluas usahanya kedalam bisnis dengan prosentase margin profitnya relatif lebih besar termasuk bisnis senirupa semakin mendongkrak transaksi karya seni rupa (artwork), baik dalam jumlah maupun harganya. Tiba-tiba saja banyak perupa menjadi sangat sejahtera, tiba-tiba saja profesi sebagai perupa menjadi sedemikian ‘seksi’, “the right proffesion in the right time!”

"Mari bung rebut kembali"

Hal ini bisa dilihat dari karya Marwan berjudul “Sold Out” dengan ukuran kategori ‘benar’ 160cmX120Cm yang menggambarkan peta Indonesia yang telah terkapling-kapling dan terjual pada pihak asing dengan tertutupnya wilayah darat kepulauan Indonesia dengan gambar bendera-bendera negara maju. Sementara itu di atas kepulauan bertebar figur berupa manusia berwarna putih kelam terusir diantara awan-awan satu dua memeluk bendera merah putih sambil menghindari pesawat laju pesawat asing. Hal ini tidaklah aneh apabila kita memeriksa latar belakang aktivitas si pekarya selain sebagai pekerja seni, Marwan juga dikenal sebagai seorang aktivis pro demokrasi yang sangat vokal (juga salah seorang vokalis group keroncong dhangdut Gastavo) dalam menyuarakan perjuangan pembangunan industrialisasi nasional dalam menghadapi globalisasi ekonomi.

Irwan dalam “Mulut Besar” benar-benar sedang berkarya dalam frame kontemporer dengan subyek sebuah bentuk kepala dengan mulut terbuka lebar dengan warna kulit cokelat kusam yang sama sekali di luar realisme anatomi setengah badan manusia berlatar belakang merah dengan tipografi di sana-sini bermain makna. Melalui karya ini ia seakan sedang mengatakan menjelang pemilu banyak mulut besar penuh janji muncul di kaca televisi, pada baliho raksasa di jalan-jalan protokol dan di manapun ruang dapat direbut bahkan di bawah sadar masyarakat kenyang janji.

Pada “Kapal Tua”, Iskandar Syaifudin mengunakan media acrylic di atas kanvas sedemikian rupa sehingga memiliki efek seperti cat minyak dalam menggambarkan realitas sosial nelayan dan perahu tua yang oleh keadaan harus berhadapan dengan waktu ketika harus terus berproduksi untuk hidup. Juga pada “Gunung dan Kata-kata” obyek kabur dalam coklat, kuning, merah meleleh penuh dengan human errors di sana sini tentu akan atraktif dipajang dalam ruang berinterior minimalis penuh garis kaku dingin dengan warna-warna dominan abu-abu arau putih.

Semua karya yang dipamerkan murni hasil eksplorasi dan diskusi bermalam-malam diantara mereka. Meskipun saling mempengaruhi dalam karya, namun dapat terlihat setiap pekarya memiliki karakter yang berbeda. Di tengah jaman penuh logika yang terpelintir, terbelokkan dan terkaburkan lalu berujungkan pada krisis ekonomi politik dan bermuarakan pada krisis budaya saat ini, mereka berusaha menjadi cerdik dalam kekritisan atau kritis melalui kecerdikannya dalam melihat ruang bahwa karya seni rupa yang dibangun dengan rasa dapat menjadi media bersuara sekaligus mengadil makmurkan diri sendiri termasuk lingkungan terdekatnya.

"MENANGKAN KURSI ABAIKAN ESENSI "

Iskandar Syaifudin

Iskandar Syaifudin

Sumarwan

Irwan Guntarto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s