/Penemuan Tulisan dan Strategi Militer oleh Sudi Arto

Piktograf dari Mesir (huruf hieroglyph)

Penemuan Tulisan dan Strategi Militer

Peradaban umat manusia tidak bisa dilepaskan dari penemuan tulisan. Jika sebelumnya manusia menggunakan bahasa-tutur untuk melakukan komunikasi, dan meneruskannya kepada generasi-generasi berikutnya, ditemukannya tulisan membuat komunikasi bisa berlangsung dalam skala lebih luas – tidak memerlukan tatap muka, dan bisa “diawetkan” melintasi kurun sejarah. Sebuah drama yang dipentaskan ribuan tahun silam di Yunani bisa kembali dimainkan sesuai aslinya saat ini. Kesalahan penafsiran yang sangat mudah terjadi dalam komunikasi lisan relatif dapat dikurangi dalam komunikasi tertulis. Konsensus dalam setiap makna bentuk penulisan menyempitkan multitafsir. 

Tulisan paku/baji dari Summeria (cuneiform)

Seperti halnya penemuan bahasa yang merevolusionerkan gerak sejarah umat manusia, penemuan tulisan adalah revolusioner. Inovasi sistem tulisan muncul di atas sistem bahasa yang sudah mapan sebelumnya. Semestinya ia berlangsung lebih sederhana ketimbang ditemukannya sistem bahasa yang relatif lebih rumit – meskipun tidak berarti bahwa penemuan sistem tulisan tidak mempunyai tingkat kerumitannya sendiri.

Bahasa – atau “bahasa manusia” – tidak bisa disetarakan dengan bahasa atau komunikasi verbal yang terjadi pada dunia binatang. Hampir setiap spesies binatang mempunyai sistem komunikasi verbalnya sendiri-sendiri yang bersifat khas. Berbagai jenis burung menggunakan sistem suara yang berbeda-beda untuk tiap jenisnya. Komunikasi bintang dihasilkan dalam bentuk suara mulai dari rentang yang dapat didengarkan oleh telinga manusia, hingga pada suara-suara rendah (infrasonik) dan suara-suara tinggi (ultrasonik), dari jarak yang bisa didengarkan hingga beberapa kilometer sampai mampu melintasi seisi samudera bumi seperti komunikasi ikan paus.

Bahasa manusia, meskipun sama-sama dihasilkan dari pita suara dan penggunaan bagian-bagian rongga mulut, tidak bisa dilepaskan dari perkembangan kecerdasan otak primatanya. Diciptakannya sistem bahasa menandai lahirnya kemampuan berpikir, atau proses abstraksi dan konseptualisasi, yang tidak ditemukan pada binatang, atau bahkan primata tercerdas lainnya sekalipun. Dengan bahasa, manusia menandai benda-benda, tindakan dan perasaan, dengan kata-kata tertentu. Dalam legenda agama-agama samawi, Adam kepada Tuhan menunjukkan kemampuannya menamai benda-benda. Penamaan objek – baik fisik (benda) maupun non-fisik – merupakan upaya konseptual yang rumit, sebuah proses paling dasar dari database, yaitu membedakan benda-benda berdasarkan ciri khasnya masing-masing dan menggolongkannya dalam kategori tertentu.

Penggolongan paling sederhana antara makhluk hidup dan benda mati misalnya, tidaklah mampu dihasilkan dalam waktu yang singkat. Mendefinisikan sesuatu sebagai makhluk hidup tidak serta-merta hanya berdasar kemampuan bergeraknya semata-mata. Api bahkan sebelumnya dianggap sebagai benda hidup sebelum diketahui bahwa ia tidak lain benda mati belaka. Atau bahkan, bahwa api itu bukan sebuah “zat” tapi hanya gejala panas yang dihasilkan – api bukan zat padat, cair ataupun gas.

Dari proses penamaan objek inilah kemudian bahasa berkembang, sejalan dengan perkembangan kebudayaan manusia. Penemuan alat-alat baru, penjelajahan dunia, eksploitasi sumber-sumber daya alam, tidak mungkin dilakukan tanpa ditemukannya sistem komunikasi bahasa yang menandai lahirnya proses berpikir konseptual yang lebih maju ketimbang primata sebelumnya. Dalam perkembangan selanjutnya, sekelompok manusia mulai memikirkan sistem komunikasi visual yang melampaui sistem komunikasi verbal. Bentuk-bentuk komunikasi visual sudah mulai diciptakan dalam bentuk komunikasi isyarat, seperti penciptaan tanda-tanda atau rambu-rambu sepanjang jalan agar tidak tersesat, atau penggunaan bendera untuk menandai gerak pasukan. Penemuan tulisan merupakan pengembangan lanjutan dari komunikasi visual berbasis tanda. Tulisan adalah sistem tanda atau perlambang yang mencerminkan makna kata-kata. Dengan sendirinya, dapat dikatakan bahwa tulisan adalah bahasa yang digambarkan dalam bentuk simbolik.

Karena itu, sistem tulisan yang pertama kali muncul adalah tulisan berbasis gambar, seperti sistem tulisan orang-orang Mesir purba (hieroglyph). Setiap kata dilambangkan dengan gambar tertentu, yang bersifat konsisten. Kemudian orang lain mengartikan rangkaian gambar yang dibuat – proses membaca dimulai. Ditemukannya tulisan mengakhiri masa prasejarah umat manusia, ketika komunikasi sangat mengandalkan proses verbal yang hanya bisa dilakukan secara tatap muka, atau dengan berteriak dan pengeras suara, atau melalui kurir-kurir penyampai pesan. Melalui tulisan, pesan bisa disampaikan dengan digambarkan dalam kain, kulit binatang atau lembaran daun papyrus yang dipotong dan digulung, atau diawetkan dalam cetakan tanah liat yang kemudian memenuhi perpustakaan pada masa itu. Atau diukir dalam batu besar yang diletakkan di alun-alun kota sebagai pengumuman kepada rakyat.

Sistem tulisan berbasis gambar ternyata mengandung kelemahan. Ia tidak efisien, karena diperlukan banyak sekali tanda-gambar untuk mewakili setiap kata. Bayangkan sebuah kamus yang berisi ribuan entry kata harus ditandai dengan setiap tanda-gambar. Proses membaca tanda-gambar yang ribuan jumlahnya itu tentu saja memerlukan energi luar biasa, apalagi untuk dapat menghapalkannya di luar kepala. Karena itu sekelompok manusia kemudian mengembangkan sistem tulisan baru yang berbasis pada bunyi patahan kata (suku kata), satuan yang lebih kecil dari kata. Saat itu manusia menyadari bahwa dari ribuan kata yang ada sebetulnya tersusun dari sekian banyak suku kata yang jumlahnya relatif lebih sedikit. Orang-orang Summeria dan Babylonia menggunakan tulisan paku yang menandai setiap suku kata.

Alfabet Funisia

Berikutnya orang-orang Funisia mengembangkan sistem tulisan baru yang berbasis pada satuan terkecil dari kata yaitu bunyi (fonem). Setiap bunyi yang dihasilkan oleh alat-alat suara ditandai dengan lambang tertentu, yang awalnya berasal dari gambar tertentu. Lambang bunyi /a/ misalnya, dikembangkan dari kata /alpha/ yang berarti “sapi jantan. Sedang bunyi /b/ dikembangkan dari kata /beta/ yang berarti “rumah”. Dari sinilah alfabet diciptakan. Cukup dengan satuan fonem yang kira-kira berjumlah dua puluhan, manusia sudah bisa menulis buku yang berjilid-jilid tebalnya. Proses membaca dan menulis menjadi lebih sederhana.

Bentuk alfabet itu sendiri masih beragam. Beberapa alfabet hanya menggambarkan bunyi konsonan, sedang bunyi vokal ditandai dengan tanda-bunyi (harakat). Sistem alfabet yang lebih maju menandai baik bunyi konsonan maupun vokal. Sejumlah bangsa, seperti Cina dan Jepang, masih menggunakan sistem alfabet yang masih mirip campuran antara tulisan-gambar Mesir dan tulisan-paku Summeria-Babylonia. Alfabet modern sendiri seringkali rancu membedakan fonem yang ada. Huruf yang sama seringkali dipakai untuk menandai fonem yang berbeda, seperti /e/ pada bahasa Indonesia yang tidak bisa dibedakan antara /e/ pepet (seperti pada kata “benda”) dengan /e/ taling (seperti pada kata “becak”). Atau penggunaan dua huruf untuk menggambarkan satu fonem, seperti /ng/, /ny/ dan /sy/. Begitu pula penggunaan aksara yang sama, yaitu aksara Latin (atau Roma), dalam bahasa Inggris berbeda dengan yang digunakan dalam bahasa Indonesia. Karena itulah kemudian dikembangkan sistem fonetik internasional dengan lambang bunyi tersendiri, yang sering dicantumkan di berbagai kamus dalam melafalkan sebuah kata.

Alfabet Roma/Latin (model Gothic, tahun 1443)

Tetapi bagaimana sistem tulisan itu diciptakan, masih merupakan tanda tanya besar. Kelompok mana yang menciptakan, dan untuk tujuan apa. Dengan mencermati pola-pola inovasi teknologi yang terjadi pada masa modern, bisa diasumsikan bahwa penciptaan tulisan terkait dengan kepentingan pertahanan diri atau peperangan, atau bisa dikatakan tulisan diciptakan sebagai sebuah strategi militer. Komunikasi seluler yang kita gunakan saat ini dikembangkan dari komunikasi militer, begitu pula internet yang awalnya merupakan proyek yang dikembangkan militer AS dalam komunikasi terbatas mereka dan lembaga-lembaga riset universitas. Begitu pula komunikasi radio dan telegraf yang sangat vital dalam komunikasi militer. Juga aspek-aspek lain teknologi seperti penerbangan yang digunakan secara masif dalam Perang Dunia Pertama dan Kedua. Mobil dan kereta api pada awalnya dikembangkan untuk mengangkut pasukan militer dalam perang. Kereta kuda diciptakan mula-mula sebagai kereta perang, seperti dikembangkan bangsa Assyria. Begitu pula penjinakan kuda sebagai alat transportasi purba berkaitan dengan penaklukan-penaklukan luas oleh bangsa-bangsa pengembara, yang mempengaruhi gerak mobilitas pasukan. Ditarik sampai masa awal manusia, penemuan alat-alat seperti tombak dan pisau berkait dengan aktivitas berburu binatang – sebuah tindakan yang mirip dengan peperangan modern, hanya saja ini berkait dengan upaya memenuhi kebutuhan makanan. Tapi jika perang dimaknai sebagai upaya perebutan sumber-sumber daya, maka berburu binatang adalah cara manusia mendapatkan sumber-sumber daya. Pola kekerasan yang digunakan sebanding dengan pola kekerasan dalam perang. Ketika manusia kemudian berkonflik dengan sesamanya, alat-alat yang sama digunakan untuk mencabik-cabik tubuh lawan-lawannya.

Tulisan sebagai bentuk komunikasi visual sangat mungkin dikembangkan sebagai sebuah strategi militer. Pada masa-masa sebelumnya, komunikasi isyarat, rambu-rambu dan pesan lisan melalui kurir sudah berkembang. Sekelompok unit dalam kemiliteran Mesir purba barangkali mengembangkan sebuah proyek penciptaan sistem komunikasi baru dalam bentuk tertulis, yang kemudian melahirkan sistem tulisan berbasis gambar. Pesan dalam bentuk tulisan memperkecil kemungkinan salah tafsir, memberikan keunggulan komunikasi yang lebih besar ketimbang komunikasi lisan atau isyarat lainnya. Bangsa Mesir berhasil menaklukkan bangsa-bangsa lain dan menciptakan peradaban maju yang bertahan hingga ribuan tahun. Pergeseran peradaban ke Mesopotamia, dan kemudian Mediterania (Funisia) menggambarkan perubahan bentuk-bentuk komunikasi dalam bentuk tulisan.

Hingga ketika Gutenberg menciptakan mesin cetak, pengetahuan kemudian meluas dalam skala yang tak terbendung. Jumlah buku meningkat pesat, melampaui seluruh buku yang pernah dibuat sebelumnya. Informasi yang sebelumnya menjadi monopoli elite tertentu kemudian menjadi milik masyarakat luas. Selama berabad-abad, kemampuan baca-tulis menjadi keunggulan yang dimiliki khususnya oleh elite intelektual kependetaan (brahmana atau ulama). Untuk menjadi pegawai istana di Cina feodal, dilakukan sistem seleksi antara lain kemampuan menulis, untuk akhirnya bergabung dalam jajaran elite mandarin. Penemuan internet pada masa belakangan ini melahirkan penyebaran informasi dalam skala yang berlipat-lipat kali dari era penemuan mesin cetak. Dengan mengetikkan kata kunci pada mesin pencari Google, kita bisa menemukan jutaan entry dalam waktu nol koma sekian detik – hal yang hampir tidak mungkin dilakukan jika kita membuka-buka katalog perpustakaan.

Seperti halnya internet yang diciptakan dari proyek militer ARPANET, hingga akhirnya berkembang untuk kepentingan sipil dan komersial seperti sekarang, begitu pula penemuan tulisan yang awalnya berkembang sebagai komunikasi terbatas dalam dunia kemiliteran purba kemudian akhirnya menjadi standar pengembangan ilmu pengetahuan. Barangkali memang ironis, bahwa teknologi hadir mula-mula sebagai eksperimen militer. Tapi ia barangkali mencerminkan hakikat dasar manusia dalam upaya perebutan sumber-sumber daya yang terbatas, yang sebelumnya berkembang dalam evolusi spesies makhluk hidup, dan menemukan keunggulannya dalam diri spesies manusia modern.

Sumber: Narasi Sederhana <http://catatan-sudi.blogspot.com/2009/11/penemuan-tulisan-dan-strategi-militer.html>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s