Gumul: Sebuah Pergumulan Peradaban / oleh Mayang Sari*

Arc-De-Triomphe, Paris, Prancis (atas), Simpang Lima Gumul (SLG), Kediri, Jawa Timur (bawah)

Siapa yang tidak kenal Paris? Kota sejuta pesona dengan berbagai mahakarya seni. Salah satu karya seni yang yang menjadi city landmark Paris adalah Arch de Triumph. Monumen yang dibangun pada akhir abad ke-18 ini, merupakan momentum sejarah serta lambang patriotisme Perancis.Lalu, bagaimana dengan Gumul? Siapa yang kenal Gumul?

Sebelum berganti nama menjadi Simpang Lima Gumul (SLG), Gumul dikenal dengan nama dikenal Proliman. SLG merupakan titik temu arus lalu lintas dari lima arah. Dari timurlaut adalah Pare, dari barat Kota Kediri dan Kecamatan Gampengrejo, dari utara Kecamatan Pagu, dari selatan Kecamatan Pesantren Kota Kediri, serta dari timur Kecamatan Plosoklaten dan Gurah.

Lalu, apa kaitannya antara Paris dan Gumul, tepatnya antara Arch de Triumph dan Monumen SLG? Karena di Gumul didirikan replika Arch de Triumph. Monumen yang ditopang oleh empat pilar raksasa berukuran 10 x 10 meter ini, ditengarai sebagai bangunan tertinggi di kota Kediri. Monumentalitas bangunan terasa menjadi anomali bagi bangunan-bangunan lainnya. Dari segi fisik, melihat SLG kita langsung teringat pada Arch de Triumph. Perbedaannya terletak pada dimensi ruang dan relief.. SLG memiliki 4 dimensi sedangkan Arch de Triumph 2 dimensi.

Mengapa harus Arch de Triumph? Mengapa tidak gapura candi Kerajaan Kadiri yang estetis dan eksotis tersebut? ”Apakah dengan meniru monumen di tempat lain akan dapat mengulang suatu monumental yang memiliki makna berbeda?

”Proliman di-PARIS-kan dengan alasan untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD), Monumen SGL yang bersolek ala mediterania ini bersiap diri menjadi pertokoan baru Simpang Lima Gumul yang nantinya diharapkan menjadi kota, yang terbayang di depan mata adalah lahirnya pertokoan-pertokoan baru, yang serba gemerlap. Monumen setinggi 25 meter dengan enam lantai, seluas 6.186 meter persegi ini akan difungsikan sebagai tempat rekreasi dan pendidikan, yang dilengkapi dua unit penthouse berikut anjungan untuk menikmati Kabupaten Kediri dari puncak monumen.

Sebuah alasan ekonomis yang sungguh tidak logis. Meningkatkan PAD dengan jalan bermimpi akan kemegahan dan kemasyhuran Paris. Sementara melupakan warisan budaya yang luhur dan agung. Gumul membuat kita bergumul dengan berbagai pemikiran tentang bangsa yang bangga menjadi bangsa lain. Bangsa yang bangga dengan kemegahan karya orang lain sehingga bermimpi akan bangkitnya vitalitas Eropa dalam kebersahajaan penduduknya. Mimpi akan kejayaan Perancis dan melupakan kearifan lokal dan kekayaan kultural khas Kediri.

Relief bangunan Arc de Triomphe menandakan vitalitas gerak dari jiwa orang Eropa, untuk memperingati kejayaan Napoleon. Sedangkan pada monumen simpang lima ini, reliefnya tidak menandakan sebuah vitalitas. Sebaliknya, lebih berkesan bersahaja dengan ‘motto pembangunan’ yang biasa hadir dalam retorika pemerintah daerah.

Proyek senilai Rp 33,45 milyar ini, telah memupus sejarah dan kejayaan kebudayaan Jawa Timur. Gelora semangat bangsa ini pada zaman keemasannya hanyut ditelan pilar beton tak bermakna.. Kearifan apakah yang dapat kita simpulkan dari SGL dalam perspektif kebudayaan bangsa ini? Lagi-lagi kita menorehkan sejarah kegelapan dengan kemunduran dan merendahkan mental bangsa.

*Mayang Sari / Universitas Indonesia, Magister · Filsafat (Fakultas Ilmu Budaya)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s