MENGGLOBALKAN PEMBEBASAN ‘ALA AUGUSTO BOAL/ Revitriyoso Husodo

/ Revitriyoso Husodo

Teater ternyata menjadi momok menakutkan bagi para rezim di Brasil. Adalah seorang Augusto Boal dengan teater Arenanya, di Sao Paulo pada dekade ‘60an dengan semangat pembebasan memfungsikan teater sebagai alat pengorganisiran, mobilisasi hingga media pencerahan bagi berjuta kaum miskin dari satu perkampungan ke perkampungan lainnya. Menurut perhitungan junta pada saat itu, massa rakyat yang tercerahkan akan menjadi kekuatan maha dahsyat yang dapat mengancam kerakusan mereka, sehingga mengharuskan mereka untuk menghentikan “Gerakan kultural untuk pembebasan kaum tertindas” Boal Cs. Mereka kemudian membunuh dua anggota teater serta tiga bulan penyekapan sarat siksaan.

Pada Awalnya; spect-actor (bukan spektator)

Dengan menggelorakan sebuah konsep spect-actor (sedikit pelakon), bukan spektator (penonton) yang setelah dikembangkan, nantinya lebih dikenal sebagai teater kaum tertindas (Theater of the Oppressed). Di sini ia mulai mengundang penonton untuk mengekspresikan pemikirannya di atas panggung. Ia menemukan bahwa dengan partisipasi penonton menjadi aktor sekaligus sutradara, teater tidak lagi sekedar menjadi sebuah tontonan, namun menjadi media pembebasan yang ampuh. Aristoteles menawarkan gagasan estetis dengan konsep penonton mendelegasikan kekuasaan pada pelakon (aktor) untuk membimbing mereka kepada ekstase (kenikmatan) belaka, yang kemudian menjadi acuan teater gaya Stanislavskian.

Sebaliknya, Boal mengembangkan konsep Bertold Brecht yang menolak kreativitas yang hanya mengejar empati dari penonton melalui penyerahan naskah, dialog, peran dari seorang aktor yang berdedikasi. Boal menggembangkan bentuk teater politis effektif yang lebih menekankan operasi dalam benak penonton. Ia menginginkan penonton sendiri yang melakonkan pemeran utamanya (protagonis), mengubah lakon dramatis, menguji coba lakon itu dan mendiskusikan rencana perubahan lakon yang sedang berlangsung. Penonton tidak hanya menghayati cerita yang disampaikan, namun panggung langsung memberi ruang bagi pemikiran bersama (kolektif) untuk pemecahan suatu masalah yang dapat mengarah kepada aksi konkret bagi sebuah perubahan ditingkatan akar rumput.

Globalisasi Boal

“meluas” dahulu ”meninggi” estetik

Masa pembuangan bagi Boal adalah perjalanan panjang menyusuri medan tertindas di berbagai sudut bumi. Mulai dari Rio dan sekitar Amerika Latin, Eropa, Afrika, Asia, Australia dan belakangan di negara pusat sang tiran sendiri, Amerika Utara (Amerika Serikat dan Kanada). Adalah sebuah kerja tanpa lelah untuk menguji –coba dan membangun konsep teaternya. Lalu ia memperkenalkan konsep-konsep teater yang telah menjadi inspirasi bagi bukunya yang sangat berpengaruh bagi perkembangan teater pembebasan dunia: Theatre of the Oppressed.

Menurut Boal ada dua macam teater kaum tertindas, yaitu pertama, teater yang dilakukan oleh para aktor profesional dan teater yang dipraktekan oleh mereka yang tertindas di tingkatan akar rumput. Untuk yang kedua, ia menggunakan proses pematangan melalui empat fase workshop. Fase pertama, fase pelatihan gerak tubuh guna memekakan seluruh indera untuk menyempitkan perbedaan antara merasakan dan menyentuh. Hal ini sangat penting untuk mematerialkan apa yang ada di kepala setiap individu yang terlibat di pementasan ke dalam gerak. Fase kedua adalah bagaimana seorang aktor berlatih untuk mengintelektualisasikan bahasa tubuh dan indera yang selanjutnya dipolitisasi melalui tema-tema sosial yang dipilih yang menghasilkan repertoar-repertoar (sandiwara) yang beraneka ragam. Repertoar-repertoar tersebut disadari ataupun tidak seringkali mengkritisi serta mengulas teori-teori besar, ataupun pemikiran keseharian, yang tidak perlu disampaikan oleh seorang profesor doktor. Fase ini sangat membantu memberikan pendidikan sosial yang mencerdaskan.

Tidak disangkal, ide-ide seorang Paolo Feire (seorang yang dikenal dengan konsep pendidikan yang membebaskan) sangat mempengaruhi kesadaran intelektual Boal. Sebagai seorang seniman teater buangan di Peru, dalam program ALFIN (Operacion Alpabetization Integra) sebuah program pendidikan di Peru yang merupakan proyek unggulan untuk penerapan teori Paolo Feire tentang pendidikan bagi kaum tertindas, Boal mengubah sebuah tehnik teater yang membalikkan konsep pendidikan barat, yang menurut istilah Feire adalah sistem pendidikan perbankan. Pendidikan barat, menurut Feire adalah pendidikan bergaya bank yang menempatkan peran guru sebagai ‘sang maha tahu’ dan mencekoki sang murid yang diposisikan sebagai “mereka yang bodoh dan yang tidak tahu apa-apa”, layaknya bank account kosong, sehingga dengan demikian dengan mudah pendidik membentuk peserta didik menjadi elemen produktif perekonomian yang kapitalistik. Murid diciptakan menjadi para pekerja yang hanya siap bekerja tanpa keinginan menggugat, dan menjadi pekerja yang berwatak konsumtif meski dalam kemelaratan. Fase ketiga, bersama-sama mengeksplorasi pakem-pakem berteater yang ada untuk menciptakan kekinian, bukan memerankan lakon-lakon yang telah ada dan dapat diubah. Mereka mulai belajar menulis skenario saat itu juga di atas panggung yang dimainkan oleh para pemain yang terlatih. Hal ini lebih dikenal sebagai Teater Forum (Forum Theatre).

Setelah junta militer berhasil digulingkan, Ia pulang kampung halaman tercinta dan mencalonkan diri untuk menjadi anggota Vereador of Rio, semacam dewan kota. Melalui bentuk teater bentuk ini telah dipraktekan menjadi Legislative Theatre berkarya bersama komunitas-komunitas di perkampungan kota untuk mengidentifikasi permasalahan kunci di daerah tersebut. Dengan diskusi di atas panggung teater tersebut mereka membicarakan bentuk keterwakilan massa rakyat bagaimana yang diinginkan oleh rakyat sebagai media propaganda. Hasil diskusi tersebut yang kemudian menjadi basis untuk perwakilan di dewan kota sesungguhnya. Setelah memenangkan salah satu kursi tersebut, maka dengan mudah ia mengumpulkan dana untuk penyelenggaraan Festival teater kaum tertindas ke tujuh yang diikuti 150-an kelompok teater dari berbagai penjuru dunia. Pertama kali diselenggarakan di Brasil pada tahun 1993. Pada fase keempat, setiap peserta workshop benar-benar menjadi pelakon, penulis skenario, sekaligus sebagai sutradara, yang mengkomunikasikan sekaligus membahas isu-isu permasalahan sosial yang ada di mass media, sehingga bagi penonton teater ini lebih dikenal sebagai teater koran (newspaper theatre). Dari fase ini juga terlahir Teater Tak kasat mata (Invisible Theatre), di mana teater dilakukan di ruang publik seperti di pasar atau terminal untuk menarik perhatian mereka yang berlalu lalang di sekitar pementasan.

Selama belasan tahun Boal berkeliling dunia untuk memperkenalkan pedekatan revolusioner dalam teater sekaligus mendirikan beberapa pusat bagi Teater Kaum Tertindas. Ia kemudian mengorganisir acara International Festival of the Theatre of the Oppressed yang pertama di Paris sebagai ajang konsolidasi. Sejak itu bentuk-bentuk teater yang ia ciptakan telah menginspirasi perlawanan melalui media seni, khususnya seni teater, yang merebak di berbagai kolong langit. Wiji Thukul dengan Sanggar Suka Banjir, telah mempraktekkan itu dengan mengajak anak-anak pinggiran kali untuk berteater sambil belajar untuk kritis mengapa mereka selalu kebanjiran, di Kampung Kalangan Jagalan Solo. The 7:48 Theatre Company pimpinan John McGrath dari Inggris mencoba menggambarkan pergolakan kehidupan keseharian pekerja di sana. Demikian pula PETA (Philippines Educational Theatre Association) di Filipinadengan konsep ATOR akronim dari Actor Trainer-Organizer-Researcher (aktor-pelatih-organiser-peneliti) yang berhasil mengorganisir, mengagitasi, serta mempropagandakan pemogokan buruh perkebunan karet dan para petani di Filipina.
Dan semua karya Boal dapat kita simpulkan bahwa yang menjadi tujuan dari setiap bentuk teater yang digubahnya adalah untuk membebaskan masyarakat dari penindasan struktural dan kultural sesuai dengan realitas ruang dan waktu, di mana mereka berada. Setiap orang adalah seniman, dan setiap tempat adalah panggung untuk mengekspresikan permasalahan bersama; belajar mengamati permasalahan bersama; lalu melawan bersama demi membebaskan diri mereka sebagai rakyat tertindas di Rio De Janero, Sao Paulo, Solo, Jakarta, London, Davao, Sidney; yang pasti terbitan ini tidaklah cukup untuk memuat semua nama kota dan dusun di mana massa miskin berjejal.

*artikel pernah diterbitkan di Tabloid Pembebasan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s