KERIS DALAM GLOBALISASI

Oleh : Toni Junus

Abstrak

Keris telah mendapat penghargaan dari UNESCO pada tanggal 25 Nopember 2005 dengan « Keris Indonesia : The Proclamation a Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity » artinya knowledge keris (non bendawi) telah diakui sebagai warisan budaya kemanusiaan (warisan budaya dunia). Dalam era globalisasi ini keris mengalami pergeseran nilai, budaya keris dihadapkan pada tanggung jawab pelestariannya dan sebagai salah satu pendukung ketahanan budaya nasional.

Pendahuluan

Jika kita berbicara tentang keris, hingga saat ini pandangan sebagian masyarakat terhadap keris tidak akan lepas dari soal gaib. Selain itu yang masih terjadi, keris akan selalu berhubungan erat dengan keyakinan (kepercayaan) masyarakat lokal. Karena kemampuan untuk menafsirkan “kepercayaan” yang ada pada setiap keris sangat beragam, maka kisah-kisah gaib selalu berkait dengan subyektifitas.

Dalam kisah sejarah yang populer, ada keris yang dapat membawa seseorang menjadi raja yaitu “Keris Empu Gandring” yang dipesan oleh Ken Arok. Setelah membunuh empu pembuatnya kemudian Arok membunuh Tunggul Ametung penguasa Tumapel; selanjutnya Arok menang atas Kediri yang sedang kemelut. Ken Arok kemudian mendirikan Kerajaan Singasari. (Pararaton).
Kisah Ki Ageng Mangir jaman Mataram mendapat keris bernama Kyai Baru, konon keris tersebut adalah sebagai penjelmaan seekor naga yang sedang bertapa membelit Gunung Merapi, sebagai syarat untuk dapat menguasai kerajaan Pajang. Cerita ini berhubungan merupakan folklore tentang terjadinya Rawapening Ambarawa yang sangat populer dalam masyarakat.

Cerita legenda dan mithos juga selalu mengiringi keberadaan keris. Ada kisah keris berasal dari Dewa, misalnya keris bernama Pasopati diberikan oleh dewa kepada Arjuna sebagai hadiah karena telah membunuh raksasa Newatakawaca yang mengacau kahyangan (Arjunavivaha).
Selain itu ada kisah keris yang konon ditemukan dalam kubangan, sebelumnya berupa seekor ikan gabus terbungkus ijuk, ketika diangkat dari air, ikan itu menjelma menjadi keris dan dinamakan Kyai Toya Tinaban (jatuh diair). Keris Kyai Toya Tinaban akhirnya hanya dipakai oleh patih Mataram.
Fenomena keris dalam mithos, cerita sejarah, cerita rakyat dan mungkin cerita-cerita yang lain menggambarkan seolah keris mempunyai kekuatan diluar kemampuan manusia (gaib). Bahkan ada cerita tentang keris yang menghilang dan datang kembali keasalnya, atau pindah kelain pemilik sesuai kehendaknya. Hal ini tidak lepas dari isu-isu yang berkembang sebagai pengagungan keris oleh pusat kekuasaan (keraton) dalam rangka melanggengkan kekuasaan.
Yang menjadi pokok persoalan bukan isi cerita itu, kebenaran cerita itu, atau betulkah keris punya kekuatan gaib. Tetapi Fenomena cerita diatas mempunyai kekuatan yang dahsyat dan mampu membentuk image masyarakat tentang eksistensi keris. Cerita-cerita tersebut mampu membentuk opini masyarakat dan mampu mempertahankan artefak budaya (keris), sekaligus menghantarkan keris sebagai warisan budaya.1)* Keris sebagai hasil karya budaya nusantara mampu lestari keberadaannya, lewat fenomena cerita-cerita itu dan kemudian mampu memberikan wacana sebagai keyakinan. Selanjutnya keris sebagai benda pusaka yang dikeramatkan, dan secara tradisi diwariskan turun temurun menimbulkan adanya kuwajiban pada masyarakatnya untuk merawatnya.

Keris dan aspek yang menyertainya

Sebagai artefak budaya, keris telah mampu bertahan sebagai pusaka budaya. Fenomena itu bisa disebut sebagai terjadinya metode rekayasa cultural. Secara non bendawi, keris memiliki sedikitnya 5 aspek antara lain : kesejarahan, fungsi sosial, tradisi, falsafah, mistik dan secara fisik (bendawi) memiliki aspek art dan teknologi.2)*
Aspek kesejarahan : Selain adanya mithos, dongeng, legenda, roman sejarah, keris hingga kini tetap
diperbincangkan melalui bahasa lisan turun temurun; secara ilmiah, keris dapat dibaca pada peninggalan relief candi serta banyak dituliskan dalam babad, prasasti dan buku-buku keraton. Dari aspek kesejarahan keris masih dapat dikenal hingga masa nanti. Sebagai contoh pengetahuan tentang keris masih dapat ditemukan oleh generasi sekarang dengan melihat dan mempelajari peninggalan-peninggalan, seperti pada candi Sukuh, Prasasti Poh, Prasasti Dakuwu, buku-buku Kawruh Padhuwungan dll.

Aspek fungsi sosial : Pergeseran fungsi keris bukan lagi sekedar sebagai senjata tikam. Jika dahulu keris dipakai sebagai senjata terakhir untuk perang campuh (satu lawan satu), keris mulai dipakai sebagai piyandel (benda jimat). Oleh campur tangan raja dan para pengageng keraton (kekuasaan), keris dipakai sebagai lambang status sosial dan kepangkatan. Dimana dapat dilihat bahwa keris para pejabat, para pedagang atau saudagar serta para pendeta dan tokoh spiritualnya dibedakan melalui jenis dapur (bentuk), motif pamor maupun warangkanya. Keris juga dihadiahkan sebagai cindera mata untuk menjalin persahabatan antara kerajaan atau untuk tamu negara. Hingga kini keris juga masih berfungsi sebagai pelengkap busana adat dalam perkawinan dan acara-acara tertentu.

Aspek tradisi : Pada adat Jawa masih berlaku pemberian keris kepada lelaki menantunya yang disebut ‘kancing gelung’. Di daerah seperti Sumatera sering terjadi perkawinan yang dilaksanakan dengan menyandingkan keris disisi pengantin wanita jika pengantin pria berhalangan (misal : terlambat pulang dari perantauannya). Keris dianggap sebagai pusaka keraton diturunkan secara estafet sebagai penanda pelimpahan kekuasaan dari raja sebelumnya (contohnya keris Kyahi Joko Piturun, Kyai Plered dll). Tradisi menjamas pusaka pada bulan Maulud (di Cirebon) atau bulan Suro (di Solo, Yogyakarta) masih rutin dilakukan.

Aspek falsafah : Pembacaan falsafah terhadap keris menyangkut bentuk keris, motif pamor keris maupun warangkanya. Antara keris dan warangkanya melambangkan penyatuan manusia dengan sang pencipta dengan ungkapan : “curigo manjing warongko, warongko manjing curigo”. Bentuk-bentuk bilah keris juga memiliki makna simbolis, misalnya bilah lurus melambangkan manusia selalu mencari pembebasannya dengan melakukan segala macam ritual menuju kemanunggalan Kawulo-Gusti dalam hal berke-Tuhanan. Keris berluk 3 disebut keris jangkung melambangkan harapan manusia untuk dapat meraih cita-citanya (kelakon = terlaksana), keris luk lima disebut pandawa dimaksudkan sebagai apresiasi terhadap sifat-sifat luhur lima kesatrya dalam cerita Pandhawa (Pendowo Lima). Serta motif pamor sebagai pengharapan sesuai dari konsep penciptaan para empu. Misalkan motif pamor ‘udan mas’ diharapkan dapat mendatangkan rejeki bagi pemiliknya, motif pamor ‘singkir’ berupa garis-garis lurus sebagai penolak bala, motif-motif pamor reka’an (rekan) sering bermotif dedaunan berupa daun kelapa disebut blarak sinered sebagai lambang kewibawaan dan kepangkatan. Warangka keris pun melambangkan bentuk bahtera yang mengarungi samodera kehidupan. Bentuk depan yang lebih rendah melambangkan sikap andap asor (low-profile).

Aspek Mistik : Keris dianggap memiliki kekuatan, karena berkaitan dengan kondisi awal penemuan teknologi tempa besi. Pada masa itu senjata dari besi menjadi suatu kekaguman manusia. Secara ‘oriental spiritualis’ dianggap sebagai inspirasi dewa. Prosesi pembuatannya diiringi dengan upacara, sehingga terjadi pula pengagungan terhadap profesi penempa besi (panday wsi). Bahkan para ksatrya dan raja pun mengagungkan dan hormat kepada para empu yang dianggap sebagai orang sakti, karena mereka membutuhkan senjata/keris yang ampuh. Pengagungan terhadap keris menjadi kekuatan ’spiritual’ dalam masyarakatnya. Sehingga keris selalu beriringan dengan pandangan tentang kegaiban. Misal; ketika terjadi wabah penyakit dibuatlah keris penolak bala atas prakarsa raja oleh empu yang dianggap hebat pada waktu itu. Kemudian keris tersebut dijadikan ‘pusaka’ keraton yang setiap kali dikirabkan lagi. Seperti tombak Kyahi Slamet yang setiap tanggal 1 Suro dikirab oleh keraton Surakarta Hadiningrat. Oleh karena pada saat bersamaan raja Paku Buwana VI dihadiahi kerbau landau (albino) dari Toraja, maka tombak Kyahi Slamet selalu dikirabkan bersama kerbau bule dengan anggapan seolah tombak itu kelangenannya (kesukaannya). Maka setiap diadakan kirab tombak Kyai Slamet selalu diarak pula kerbau bule.

Fenomena mistik yang menjadi keyakinan masyarakatnya, terus berkembang dengan munculnya beraneka rekayasa mistik baru. Berkembang seperti yang sering kita lihat pada demonstrasi oleh paranormal, sinetron dan tayangan-tayangan khusus televisi yang sensasional. Bahkan sering kita baca iklan-iklan tak masuk akal, seperti dimaharkan keris bisa berdiri atau keris berbayangan tujuh.

Art : Tentang nilai seni, secara ringkas dapat dijelaskan tentang bentuk keris yang unik, a-simetri dan spesifik tidak ada duanya di dunia. Rancang bangun keris selain memenuhi suatu nilai harmoni ternyata juga dimuati oleh kebutuhan teknomik. Keris sengaja dibuat condong atau dibuat dengan luk tak lain adalah untuk memaksimalkan fungsi keris sebagai senjata tikam. Keris ditambah variasi yang disebut ricikan, menyimpulkan bahwa keris digunakan sebagai media ekspresi sang empu dalam menyampaikan sentuhan falsafah dan pesan. Keris yang bagus dapat dinilai sesuai kriteria bahan besi dan pamor yang bagus, penggarapan meliputi harmoni, kerapian, kesempurnaan tempa. Serta keterpukauan yang artinya menggetarkan, berkarisma, angker dan tampak berwibawa. (bhs Jw: Tuh, Si, Rap singkatan dari UTUH, BESI. GARAP dan Yo, Mor, Jo, Si, Ngun singkatan dari GUWAYA, PAMOR, BAJA, BESI dan WANGUN).
Teknologi : Keris (kuno) hingga kini masih diteliti, baik oleh sarjana-sarjana metalurgi kita maupun asing. Ada banyak hal yang menjadi kekagumannya, misalnya pengadaan material (bahan meteor) teknik penyatuan antara logam heterogen mengandung titanium (dari meteor) dengan besi yang berasal dari bumi. Teknologi pengerasan (karburasi) besi low carbon menjadi high carbon yang keras dan tajam (dengan cara quenching) tampaknya juga memiliki rahasia yang belum diketahui oleh teknologi metalurgi modern. Melekuk atau membuat luk pada keris yang berbaja keras (high carbon) dapat seolah menjadi lentur juga menjadi pertanyaan mereka.

Pergeseran nilai dalam Globalisasi

Dinamika kehidupan seni budaya, kini mulai terpengaruh oleh perkembangan teknologi dan informasi. Kehidupan budaya etnik yang telah mapan, akan mengalami perubahan secara kultural. Seni budaya tradisi yang terbentuk oleh adanya ikatan nilai sosial (sosio-kultural) dalam lingkup masyarakatnya, mulai bergeser. Ikatan nilai kebersamaan sosial yang membuahkan satu bentuk budaya dan diyakini bersama, akhirnya sedikit demi sedikit menjadi bersifat individual. Sebagai artefak budaya, keris dalam perkembangan selanjutnya akan dihadapkan oleh dua pilihan, yaitu ; kekuatan Konservasi dan Progresi. 3)* Pandangan Konservasi menghendaki segala kekuatan budaya selalu berorientasi pada masa lalu, sehingga harus mempertahankan nilai pokok dari budaya itu.

Apa yang terjadi saat ini terdapat komunitas yang masih cenderung pada perlakuan konservatif. Antara lain merawat benda-benda kuno tersebut, mengadakan upacara-upacara tradisinya seperti “pasupati” di Bali, “Sidikara Pusaka” di Jawa. Seiring dengan pemahaman pada personifikasi keris, pengagungan dan mistik yang telah menjadi tradisi. Keris secara preservasi disimpan dan dirawat sebagai salah satu budaya kelangenan dan hobi, disamping itu keris dipercaya sebagai benda bertuah yang diturunkan temurun sebagai wasiat (pusaka).

Pandangan progresi menghendaki adanya perubahan yang mengarah pada modernisasi budaya.
Maka dalam situasi progresif beberapa aspek keris yang telah tertanam sebagai nilai pokok budaya keris akan ‘berubah’ atau bahkan ‘terkikis’.

Jika nilai-nilai yang ada ‘berubah’ maka dalam pembacaan ‘metode rekayasa cultural’ proses tersebut akan berulang kembali dalam bentuk lain dimasa kini. Misalnya pada aspek fungsi sosial, jika kedudukan kepangkatan dalam militer disematkan keris dalam bentuk tongkat komando, memiliki layer atau tingkatan hirarki dalam bentuk yang berbeda. Maka terjadi tradisi baru upacara estafet pelimpahan kepemimpinan. Seperti halnya pelimpahan kekuasaan Raja kepada putra mahkota (dulu). Pengagungan pada tongkat pusaka tersebut juga akan memiliki penyertaan kisah-kisah, mitos atau pengalaman mistik yang baru walaupun yang berperan tetap adalah subyektifitas.

Namun jika nilai-nilai yang ada ‘terkikis’, berarti aspek-aspek yang menyertai keris akan menjadi lebih sederhana, misalnya keris tidak lagi memiliki fungsi sosial, hilangnya perlakuan traditif (njamasi pusaka bukan menjadi ritual dan tidak selalu bulan Suro atau Maulud). Keris hanya sebagai media ekspresi, benda ‘seni’, benda pamer, benda pajang bahkan tidak teraplikasi sebagai pelengkap busana.

Pada pandangan yang lebih maju, keris mulai dianggap sebagai benda seni. Oleh sebab itu pula muncul paguyuban-paguyuban atau perkumpulan sesama pencinta keris yang tak lain karena keris tampaknya mulai bisa dianggap sebagai benda pamer (tidak disinengker). Apalagi piagam Unesco melahirkan spirit baru menambah keyakinan para penggemar dan kolektor keris.

Pandangan modern bahwa keris adalah hasil olah ‘art and teknologi’ tampaknya juga telah lama dipahami oleh bangsa asing. Tanpa diketahui oleh para pemerhati dan pencinta keris kita, ternyata perburuan keris yang bermutu (artistik) terus menerus telah dilakukan oleh orang asing, melalui Bali, Yogyakarta dan Solo. Hal ini diakibatkan kurangmya kesadaran dari masyarakat kita, mereka lebih suka menerima uang dari para pedagang keris dari pada menghargai budaya lokalnya. Juga oleh karena berbagai tradisi keris yang dianggap serba rumit serta citra keris sebagai benda mistik gaib sering dinubculkan secara berlebihan (irrasional dan sensasional) hingga menakutkan dan pandangan agama justru selalu memusuhi dan sering memusnahkannya. Jika sekarang para penggemar keris dan seniman keris mulai berpikir dalam konsep simplicity (kesederhanaan). Maka pandangan progresif tampaknya juga mewarnai ranah perkembangan keris-keris buatan baru. Digarap oleh seniman-seniman keris, sebagai karya konseptual. Lihat lampiran.

Pandangan konvervatif serta gerakan progresif mau tidak mau akan terpadu. Kondisi ini secara kultural bisa disebut bahwa keris dapat bertahan secara konservasi-progresif. Keris akan mulai digeluti oleh generasi muda karena muatan konsep dalam sisi ‘art and teknologi’ yang melatarinya. Sehingga dikotomi keris baru dan keris kuno yang timbul akan saling mendorong perkembangan keris. Pandangan konservatif yang telah terbentuk, akan menjadi lebih populer dan menjadi ketertarikan generasi muda mempelajari budaya traditifnya. Sementara itu, keris dalam perkembangan progresif kontemporer diramalkan akan semakin digemari, artinya jika dihadapkan dengan pasarnya keris baru akan masuk dalam etalase Galeri sebagai seni rupa konseptual. Tantangannya adalah ’kreatifitas’, bahkan mungkin akan muncul karya kreatif yang mulai jauh dari bentuk keris.

Keris akan dirambah oleh para pakar keseni-rupaan, ahli metalurgi dan tokoh-tokoh budaya sebagai lahan baru yang akan memperkuat ketahanan kebudayaan Nusantara. Keris dalam konstalasi modern tentu akan menjauh dari lingkaran hegemoni keraton. Salah satu alternatip untuk mempertahankan budaya keris yang dahulu selalu bersumber dari Keraton adalah dengan mengaktualisasikan menjadi ilmu pengetahuan (tentang keris). Sehingga kita tidak perlu lagi kawatir akan punahnya budaya keris maupun adanya klaim asing!

Informasi tambahan perjalanan Keris masa kini

Dibangkitkan oleh spirit piagam UNESCO, perkerisan mulai menggeliat. Sentra-sentra produksi keris yang sudah ada sejak dahulu (di Madura, Malang, Yogyakarta dan Solo) kini dirambah generasi muda.
Pada masa sebelumnya produksi keris yang asal-asalan (kodian) menjadi konsumsi para dukun (paranormal) untuk pasiennya. Sekarang sentra-sentra tersebut mulai dijadikan tempat penelitian (eksperimen) para pencinta keris, sehingga kwalitas keris yang dihasilkan juga meningkat. Apresiasi terhadap keris pada masyarakat umum mulai meningkat dengan sringnya diadakan pameran, bahkan birokrasi pemerintah pun sudah bangun dari tidurnya.
Pengetahuan keris mulai dirintis menjadi ‘ilmu baru’ yang disebut KERISOLOGI NUSANTARA, meliputi keris-keris di seluruh nusantara dalam pemahaman wilayah Majapahit Empire.4)*. Simposium ”Kerisologi Nusantara” diprakarsai Institut Seni Indonesia – Surakarta, melibatkan Puslitbang Depbudpar, Depdiknas, Pusat Konservasi Keris Nusantara – Surakarta, Sekretariat Nasional Keris Indonesia, wakil-wakil paguyuban termasuk Panji Nusantara.

Symposium telah dilaksanakan beberapa kali antara lain menyusun Sylabus dan Nomenklaturnya. Akan menyusul penyusunan materi pokok ilmu pengetahuan keris itu sendiri, penelitian ke daerah-daerah telah dimulai antara lain Palembang, Pasundan dan Bali selanjutnya akan terus meluas ke Bugis, Jambi, Riau, Kelantan hingga penelitian keris Moro.

Jika Kerisologi Nusantara menjadi kenyataan, kemudian diperkenalkan kepada dunia, maka keris dapat bertahan dalam bentuk aksentuasi baru ’kebudayaan nusantara’ dalam era globalisasi.

SALAM BUDAYA !!!

 

Catatan kaki:

1)* DR. Dharsono, MSn; KERIS NUSANTARA Revitalisasi melalui upaya konservasi ; Makalah 2006.

2)* Haryono Haryoguritno ; Keris Sebagai Warisan Budaya Dunia; Makalah Puri Wiji; Desember 2007.

3)* DR. Dharsono, MSn; KERIS NUSANTARA Revitalisasi melalui upaya konservasi ; Makalah 2006.

4)* Masih dalam perdebatan : Keris Nusantara vs Keris Indonesia (Istilah); Pamor 07 April 2008. Disebutkan sesuai peta wilayah Majapahit maka keris Nusantara meliputi keris Kelantan, Tajong – Malaysia, Sundang dan senjata Moro – Philipina serta Keris dari Pathani – Thailand selatan. Sementara awal digunakannya istilah ’Indonesia’ baru dipakai setelah pada abad 19 oleh Suryadi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s