KOPI INDONESIA: MENANDINGI HEGEMONI STARBUCKS/Revitriyoso Husodo

Oleh Revitriyoso Husodo

Menghirup aroma kopi lalu menyeruput dengan segala kenikmatannya, adalah sebuah ritual bersejarah panjang dan mendunia, namun dewasa ini sistem produksinya maupun bentuk ritualnya dikuasai, dikontrol serta diciptakan oleh segelintir perusahaan-perusahaan raksasa dunia seperti Coffee Bean, Dunkin Donut dan terutama Starbucks.

Kopi Dan Starbucks

Pertama kali didirikan di Seattle, Amerika Serikat pada tahun 1971, dengan pesat jaringan kedai kopi Starbucks menyebar keseluruh pelosok dunia. Setelah perang dingin usai pada akhir tahun 1980an kemudian disusul era yang sering disebut sebagai zaman neoliberalisme yang dimulai pada tahun 1990an, hal-hal yang tak terbayangkan sebelumnya dapat terjadi. Maka perusahaan ini semakin menggurita dengan cabang lebih dari 16.000 kedai di 44 negara pada awal 2008. dengan jaringan seraksasa tersebut meraup pendapatan sebesar US$ 2,53 miliar atau sekitar Rp 22,8 triliun pada kwartal pertama 2010.

Hal tersebut dapat terjadi karena ditopang dengan strategi pemasaran yang canggih dan rigid. Strategi pemasaran modern dalam era ini membuat strategi pemasaran dan periklanan sebelumnya terlihat usang. Pertempuran pasar sudah bergeser berbareng dengan pergeseran ideologi dunia. Konsep PDB (Positioning, Differentiation dan Branding) yang cenderung ‘vertikal’ sudah tidak relevan lagi maka mereka berusaha ’menghorizontalkan’ menjadi Triple C, yaitu Clarification, Codification dan Character.

Starbucks mengklarifikasikan diri sebagai “the third place” setelah rumah dan kantor. Konsep yang dikampanyekan ini berkait dengan pembentukan gaya hidup kelas menengah di kota-kota besar di seluruh dunia. Dengan modal yang ‘unlimited’ Starbucks menawarkan “The Starbucks Experience” di lokasi-lokasi elit perkotaan dengan suasana cozy dan mahal, memang berhasil menghipnotis masyarakat kelas atas, menengah, maupun kelas ekonomi bawah yang latah meskipun produk-produknya over-priced. Eksistensialisme telah menjadi budaya nasional dewasa ini. Lebih jauh mereka juga menawarkan berbagai produk baru meskipun produk-produk tersebut hanyalah comotan dari produk-produk lokal seperti kopi arabika lintong yang sebenarnya telah lama dikonsumsi oleh misanya masyarakat pinggiran Danau Toba.

Dalam waktu dekat memang Starbuck akan terancam dengan kehadiran kopi premium dari McDonalds dan Dunkin Donuts sebagai pesaing kuat, namun pasar kopi nasional akan tetap didominasi oleh MNC. Para kelas menengah menghamburkannya kekayaannya berbareng dengan kelas bawah yang menabung atau berhutang untuk memastikan mereka berada dalam wilayah ‘mereka yang wajib dipuja’. Sementara pemain lokal semakin tergusur, sedangkan keuntungan setiap teguk kopi akan mengalir ke kantong-kantong para pemilik perusahaan entah milik siapa; entah di negara mana.

Sejarah Budaya ’Ngopi’

Sejauh yang dapat ditelusuri, sejarah tradisi minum kopi telah berkembang lebih dari tiga ribu tahun di peradaban suku Galla di Afrika timur. Tanaman kopi sendiri diperkirakan berasal dari hutan tropik di kawasan pegunungan tinggi Ethopia dan kawasan utara Kenya. Lama-kelamaan kebiasaan ini bekembang di kebudayaan Arab dan menjalar ke wilayah Afrika utara hingga Yaman. Penyebaran kebiasaan mengkonsumsi kopi bersamaan dengan penyebaran agama Islam oleh bangsa-bangsa Arab hingga Konstantinopel oleh bangsa Turki. Setelah perang salip berakhir dan bangsa-bangsa eropa tidak hanya menyerap ilmu pengetahuan namun juga mengadopsi kebiasaan bangsa arab termasuk menyeruput kopi. Maka mulailah kopi dibawa ke belanda dari Yaman.

Zaman penaklukan ‘sisa dunia’ membawakan biji kopi menyebar ke seluruh penjuru dunia dan dimassalkan oleh belanda di Indonesia yang didatangkan dari Mekah; di Brazil oleh Portugis; di Jamaika oleh Inggris. Sebagai puncaknya zaman kolonialisasi berfahamkan liberalisme barat, selama abad ke-19 kopi merupakan komoditi penting dunia. Setelah itu, pada abad berikutnya, harga kopi mengalami penurunan dikarenakan over produksi, meski kadang-kadang diselingi periode singkat terjadinya kekurangan persediaan (short supply).

Dunia kopi Indonesia

Kebiasaan meminum kopi sudah mentradisi di negara-negara penjajah sehingga mendorong sebuah negara kecil seperti negeri Belanda untuk membudidayakan tanaman kopi dan Amsterdam menjadi pusat perdagangan kopi saat itu. Pada akhir abad ke 17. mereka mencoba untuk memassalkan jenis Arabika-Malabar di daerah Bogor dan Batavia. Untuk menggenjot produksinya maka pemerintah Hindia Belanda menerapkan culturstelsel, yang berarti mewajibkan rakyat untuk menanam kopi. Hasil melimpah di kopi Jawa ini kemudian mulai dlelangkan di Amsterdam dan menghasilkan keuntungan yang besar. Java Coffie menjadi begitu terkenalnya di Eropa saat itu bahkan kemudian kata java dapat disubstitusikan untuk kata benda kopi itu sendiri.

Setelah diberlakukannya Agrarische Wet yang memungkinkan Hak guna Usaha hingga selama 75 tahun, maka usaha pengembangan kopi menyebar ke banyak wilayah nusantara seperti Semarang, kedu, Kediri, pasuruan hingga meluas ke pulau Sumatera di Lampung dan Bengkulu. Penyebaran ini terganggu dengan munculnya wabah penyakit karat daun (Hemileia Vastatrix). Maka pada awal tahun 1900 pemerintah hindia belanda mencoba beberapa macam jenis kopi lainnya, dan tanaman kopi Robusta yang berasal dari Kongo jajahan Belgia nampaknya yang dapat diandalkan. Sejak itulah kopi Robusta kualitas “excellent condition” (dikarenakan tanah tanam yang tepat didukung oleh pusat penelitian kopi yang canggih) meluas di tanam di Bali, sumatera Selatan, Lampung, kerinci, Tapanuli, Sulawesi Tengah dan masih banyak tempat lagi hingga tahun 1912 sudah mencapai 24.000.000 pohon. Pada awal perang dunia kedua Indonesia menempati posisi ketiga terbesar di dunia setelah Brasil dan Kolumbia dengan total produksi 130.000 ton pertahun atau 5,3% kebutuhan kopi dunia. Di tahun-tahun selanjutnya produksi kopi mengalami pasang surut meskpun masih termasuk wilayah produsen yang diperhitungkan di dunia.

Setelah harga kopi dunia kembali menukik turun pada pertengahan tahun 1950an hingga awal 1960an, maka pada tahun 1963 dibentuklah International Coffee Organization (ICO) atau Organisasi Kopi Internasional untuk mengatasi krisis kopi dunia yang terjadi. Tujuan dari pendirian badan dunia dibawah Persatuan Bangsa-bangsa ini adalah bagaimana mempromosikan kerjasama internasional dalam hal perkopian. Tidak hanya dalam hal perdagangan namun lebih jauh bertujuan untuk meningkatkan kualitas peoduk dan mendorong negara anggota dapat mengembangkan ekonomi yang berbasiskan komoditas kopi. Seperti kita ketahui setelah Perang dunia berakhir, peran negara diperkuat dalam hal perekonomian nasionalnya masing-masing dalam rangka mensejahterakan rakyatnya. Maka organisasi itu memberikan peran besar bagi negara untuk mengintervensi pasar. Setelah melalui berbagai peundingan, memang terjadi kenaikan harga kopi dunia dan produksi kopi dunia juga mulai mengalam peningkatan, namun tidak signifikan yaitu 0,5% pertahun dari 1991 hingga 1997, dengan rata-rata produksi kopi dunia amencapai 5,6 juta ton per tahun.

Dengan diproduksi, kopi Arabika yang banyak diproduksi dari Kolumbia, negara-negara Amerika tengah dan Brazil merupakan bagian terbesar ( sekitar 70%) dari total produksi, sedangkan 30% sisanya adalah kopi Robusta yang diproduksi dari negara Afrika dan Asia Pasifik termasuk Indonesia. Memasuki era perdagangan bebas, dengan dibentuknya organisasi perdagangan dunia, WTO (World Trade Organization). WTO juga mengatur tentang meliberalkan perdagangan pertanian dalam AoA (Agreement on Agriculture) dan investasi lintas negara. Karena organisasi bersifat mengikat Negara yang bergabung (legally bounded) maka dimana segala sesuatu harus dibebaskan untuk diperjualbelikan dan peran negara semakin dibatasi dalam hal perdagangan. Pemerintah Indonesia turut menyiapkan perangkat-perangkat perundangan yang memungkinkan untuk meliberalisasi perdagangan dan investasi di Indonesia seperti perundangan bagi penanaman modal asing (PMA) untuk berbagai bidang perekonomian termasuk dalam perdagangan kopi. Hal ini sesuai dengan persetujuan Uruguay Round (1986-1994) yang merupakan perundingan untuk pembentukan WTO. Perundangan yang dimaksud adalah penetapan PP No. 16 Tahun 1998, sebagai pengganti PP No. 2 Tahun 1996 sebagaiaman telah diubah dengan PP No. 46 tahun 1997. peraturan yang dimaksud pada pasal 2 menyatakan bahwa dimungkinkannya perusahaan dalam rangka PMA untuk dapat melakukan penjualan barang sebagai Pengecer.

Peraturan lain yang semakin menguatkan posisi MNC sebagai ‘pemain inti’ di Indonesia adalah SK Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 11/MPP/SK/I/1996 yang merupakan peraturan pelaksanaan dari PP No. 2 Tahun 1996. Beberapa Pasal inti dari SK Menperindag tersebut adalah kegiatan perdagangan ekspor dapat dilakukan oleh setiap perusahaan di bidang produksi yang didirikan dalam rangka PMA (Pasal 1), perusahaan dimaksud dapat melakukan pembelian di dalam negeri untuk keperluan proses produksi, pembelian barang dan/atau bahan hasil produksi di dalam negeri untuk diekspor, ekspor hasil produksinya sendiri dan promosi, penelitian pasar dan kegiatan-kegiatan lain yang serupa (Pasal 2), perusahaan dimaksud dapat melakukan pengadaan barang ekspornya dengan cara melakukan pembelian barang dan atau bahan dalam negeri langsung dari produsen (Pasal 3), dan barang dan/atau bahan dimaksud meliputi barang jadi hasil industri dan/atau barang hasil pertanian, perkebunan, perikanan, kehutanan, pertambangan dan lain sebagainya (Pasal 4).

Perundangan tersebut di atas sangat membahayakan posisi para pengusaha kopi nasional, lokal maupun petani kopi di Indonesia dikarenakan beberapa hal. Pertama, kehadiran mereka merupakan pesaing yang bermodal jau lebih besar, sehingga menggeser pengusaha nasional menjadi pengumpul besar dan pengumpul besar menjadi pengumpul yang lebih kecil. Hal yang lain adalah tergesernya pengusaha kopi nasional yang kalah bersaing untuk tergeser ke wilayah-wilayah produksi yang semakin menjauh dari ibukota propinsi sehingga biaya produksi menjadi meningkat. Bagi para petani, terjadi persaingan untuk menjatuhkan harga agar dapat terjual kopi sebagai hasil buminya. Pemiskinan nasional berkelanjutan sedang terjadi di dunia perkopian di negeri ini.

Solusi Perkopian saat ini

Jika memang memiliki itikad memakmurkan bangsa melalui kopi, maka harus dilakukan bersama antara pemerintah dan produsen nasional termasuk para petani kopi sesuai dengan kompetensinya masing-masing. Bagi pemerintah Indonesia harus segera mengkaji ulang dan mengambil langkah-langkah perubahan bagi segala kebijakan perdagangan bebas yang berkait dengan komoditi kopi seperti kebijakan tentang Undang Undang Penanaman modal 2007 dan kesepakatan kesepakatan yag telah diambil baik yan melalui mekanisme WTO maupun melalui FTA (Free Trade Agreement). Sehingga dengan demikian akan memajukan industrialisasi diberbagai bidang termasuk dalam industri produk kopi dari hulu hingga hilir. Hal lainnya adalah berupaya untuk membangun investasi negara pada industri ini dengan jalan investasi langsung dengan membangun sentra-sentra produksi nasional sendiri yang dikuasai negara dan mempermudah pinjaman modal produksi bagi para petani. Selanjutnya pemerintah harus berupaya untuk meningkatkan kualitas produk bagi para petani dengan banyak memberikan penyuluhan tentang perbaikan kualitas kopi bagi para petani.

Ditingkatan masyarakat, harus ada upaya-upaya kolektif untuk membebaskan diri dari ketertindasan dan kemiskinan serta memperjuangkan keadilan dan kemakmuran bersama. Dalam upaya ini dapat dibagi menjadi dua kerja yang saling mendukung. Pertama, masyarakat harus segera berjuang ditingkatan kesadaran yaitu kesadaran kolektif dan produktif. Kesadaran akan berupaya bersama dan meninggalkan persaingan individualistik destruktif dalam kelompok. Para petani kopi harus membentuk organsasi-organisasi yang memperjuangkan pasar dan harga komoditas mereka.

Bagi para konsumen dalam negeri harus segera meninggalkan budaya eksistensialisme dan mulai membangun kesadaran cinta produk sendiri, yang notabene memang memiliki kualitas unggul. Sehingga dengan demikian produksi kopi akan meningkat secara kualitas dan dionsumsi oleh pasar domestik. Sehingga penurunan harga sebesar 1,80 poin atau 1,36% yang terjadi misalnya pada bulan april 2010 kemarin di pasar Bloomberg, atau di Bursa Loco London pada waktu yang tidak jauh berbeda yaitu US$1.500 per ton menjadi US$1.353 per ton untuk kopi robusta, tidak terlalu menjadi masalah mengingat pasar terbesar kopi di Indonesia adalah kopi robusta.

Pustaka:
Hira Jamtani & Lutfiyah Hanim, Globalisasi Dan Monopoli Pengetahuan, Infid, Konphalindo, IGJ, 2002
Alissa Quart, Belanja Sampai mati, Resist, 2009
P.S. Siswoputranto, Kopi Internasional Dan Indonesia, Penerbit Kanisius, 1993
Webster M. 2010. Coffee Definition. http://www.merriam-webster.com/dictionary/coffee.
Bobby Chandra, AP Investor Senang, Laba Kedai Kopi Starbucks Naik 8 Kali , TEMPO Interaktif, 2010
Sepudin Zuhri, Negara Produsen Perlu Genjot Produksi, Bisnis Indonesia, 2010
Arief Fadillah* & Nuradi Noeri, Diminati namun susah masuk, 1010
Khaerudin, Petani Pun Kini Nikmati Kopi “Starbucks”, Kompas.com, 2010
Hermawan Kartajaya,Waizly Darwin, Mengarungi Pasar 2010 Lewat Pendekatan Horisontal, Tribun Timur, 2009
Larry Gonick, Sejarah peradaban, 2009

6 thoughts on “KOPI INDONESIA: MENANDINGI HEGEMONI STARBUCKS/Revitriyoso Husodo

    • terima kasih untuk, Mantapppnya bang, semoga kita bisa bertemu untuk berdiskusi/berkonsultasi dengan abang, supaya kami dapat banyak masukan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s