Selamatkan Gunung, Sejahterakan Warga .

SELASA, 02 NOVEMBER 2010 10:07
BUDHI KURNIAWAN

Sebuah pesta budaya digelar di kaki Gunung Salak, pertangahan Oktober lalu. Festival Gunung Salak ini dimeriahkan pementasan wayang golek sampai musyawarah gunung. Dalam rangka memperingati Hari Pangan dan Hari Pengentasan Kemiskinan Sedunia, festival ini menyoroti kondisi masyarakat yang tinggal di kaki Gunung Salak. Hidup prihatin akibat praktik penebangan hutan dan pembangunan vila.

Suara yang agak berat ini, milik Cepot, salah seorang tokoh panakawan dalam wayang golek Sunda. Dalam pagaleran wayang golek Sunda, biasanya Cepot dihadirkan sang dalang  sebagai penghibur di sela-sela cerita wayang purwa yang diambil dari epos Mahabaratha atau Ramayana. Gaya bicaranya ceplos-ceplos, dan penuh humor.  Sebagai tokoh wayang, Cepot cenderung lebih populer ketimbang tokoh dari kalangan ksatria atau raja.

Malam itu, di Desa Cihideng Udik, Kecamatan Ciampea Bogor, Cepot tidak hadir bersama tokoh wayang lain. Di atas panggung, di tangan sang dalang, Cepot hadir bersama para tokoh masyarakat dari desa-desa sekitar kaki Gunung Salak. Cepot didaulat untuk membuka sekaligus memandu musyawarah gunung yang dilakukan para tokoh masyarakat di kaki Gunung Salak.

Satu persatu, masyarakat pun berbicara. Menyuarakan persoalan yang dihadapi kampung mereka yang berada persis di kaki Gunung Salak. Deni Ramli mengeluhkan soal maraknya pembangunan vila di sana.

“Masyarakat pada umumnya yang berdekatan dengan Gunung Salak, untuk bisa memperhatikan kondisi di daerah kita masing-masing. Dan kondisi sosial kita. Menurut pengamatan saya, banyak daerah di kaki Gunung Salak ini kurang kontrol sosial. Contonya, jangankan di daerah pegunungan, jamur-jamur beton yaitu vila-vila para pengusaha atau cukong yang bisa menimbulkan bencana buat kita semua,” papar Deni.

Musyawarah Gunung adalah bagian dari Festival Gunung Salak, di Desa Cihideung Udik, Bogor. Musyawarah ini diakhiri dengan pentas wayang golek semalam suntuk yang dihadiri ratusan warga.

Ketua Panitia Festival Gunung Salak,  Revitriyoso Husodo mengatakan Musyawarah Gunung digelar untuk menghidupkan kembali tradisi pertemuan di antara masyarakat desa yang digerus televisi.

Festival Gunung Salak ini berisi bermacam-macam acara kesenian tradisional. Mulai dari arak-arakan gunung, pementasan sinden, hingga berbagai lomba yang diikuti anak-anak, dari enggrang sampai memasukan paku dalam botol.

Kegiatan Festival digelar untuk untuk memperingati Hari Pangan Sedunia, yang jatuh pada setiap 16 Oktober. Juga peringatan Hari Penghapusan Kemiskinan Internasional yang jatuh sehari setelahnya. Karena itu ada juga pelatihan pertanian organian buat petani demi meningkatkan produksi pertanian.

Festival ini sengaja digelar di Desa Cihideung Udik yang hanya berjarak 5 kilometer dari Taman Nasional Halimun Salak. Kondisi Gunung Salak kini makin gundul, dengan maraknya pembangunan vila, juga menjamurnya perusahaan air minum. Masyarakat harus menanggung akibatnya.

Gemerincik air ini mengalir dari salah satu selokan di Desa Cihideng Udik. Mengalir dari Gunung Salak, air  agak keruh warnanya. Udin Riki bercerita, warga kini sulit mendapatkan air bersih. Harus menggali lubang bermeter-meter dalamnya untuk mendapatkannya.

“Apalagi masalah air bersih. Sangat sulit sekarang. Dulu mah waktu saya kecil suka ada air bening yang alami. Sekarang tanpa bikin sumur bor, atau tanpa pake Sanyo, sulit sekali. Dampaknya mungkin karena faktor alam. Dulu mah banyak pohon yang gede. Banyak air kan sumber pohonan, jadi subur. Sekarang kan pohon-pohon itu kan udah ditebangin, dampaknya ke kita juga,” keluh Riki.

pertanian organik di desa Cikupa / revitriyoso Husodo

Petani juga kesulitan mendapatkan air untuk persawahan. Akibatnya, banyak petani yang harus mengalihkan sistem pertanian mereka. Yang semula ditanami padi, sekarang dijadikan kebun, kata warga, Deni Ramli.

Menurut warga, air kini sulit lantaran penebangan hutan di Gunung Salak. Juga perusahaan air minum yang menjamur di lereng Gunung Salak, menyedot air tanah habis-habisan. Tak menyisakan bagi warga dan petani.

Karena makin sulit bertahan jadi petani, juga ada perluasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, lahan pertanian ikut berkurang. Revi Triyoso, salah satu pengggas Festival Gunung Salak mengatakan, masyarakat desa banyak yang alih profesi dari petani jadi buruh pabrik.

“Taman Nasional Gunung Salak Halimun ini tadinya seluas 97 ribu hektar kemudian membengkak menjadi diatas 114 ribu hektar. Ini sama dengan wilayah yang mencakup 200 desa. Dampaknya lahan pertanian menyusut, tapi juga tidak secara langsung menyebabkan kemakmuran kepada masyarakat. Mereka bahkan beralih profesi dari petani menjadi buruh,” papar Revi.

Pada 2003, Menteri Kehutanan mengeluarkan SK soal perubahan fungsi kawasan hutan lindung, hutan produksi tetap, hutan produksi terbatas di hutan Gunung Halimun dan Salak. Luasnya mencapai 113 ribu hektar lebih. Inilah yang kemudian menjadi Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

Meski sudah menyandang status Taman Nasional, jual beli lahan terus berlangsung. Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Kementerian Kehutanan Darori menduga, ada pejabat yang ikut bermain.

“Ini kan hampir 16 tahun dikelola Perhutani. Tentu saja siapa yang salah harus dipertanggungjawabkan. Jadi kalau aparat Kementerian Kehutanan yang salah akan ditindak, demikian juga jika aparat Perhutani yang terlibat akan ditindak. Jika ada Pidana kehutanan yang menyidik aparat kehutanan, kalau pidana umum polisi yang akan menyidik dan kalau ada korupsi kejaksaan agung dan KPK akan menyelidik kasus ini,” tegas Darori.

Kawasan seluas 250 hektar di Taman Nasional Gunung Halimun Salak kini mulai dipadati berbagai bangunan. Ada pula jaringan listrik, telepon sampai sarana wisata. Seperti aneka permainan di luar ruangan atau outbond, kolam renang, dan pemandian air panas.

Maman Muslami atau biasa disapa Saban bercerita yang juga dikeruk dari Gunung Salak adalah batu templek. Ini adalah jenis batuan alam yang biasa dipakai untuk menjadi teras rumah mewah. Kata Saban, batuan itu berada di tebing gunung sehingga untuk mendapatkannya, harus terlebih dulu menggerus pasir dan bebatuan gunung.

“Batu templek itu batu yang tipis yang bisa memperindah rumah, yang harga jualnya tinggi. Jadi itu sekarang yang dilindungi oleh aparat-aparat setempat. Sekarang ke Gunung Salak banyak pintu. Kalau kita ke arah barat, paling ujung adalah Desa Cemplang, kalau ke pertengahannya Desa Cibatok, pertengahan ke arah timur di Desa Cikampak dan terakhir di sini, Desa Cihideung Udik,” kata Saban.

Tambah Saban, batuan itu sebenarnya dilindungi oleh pemerintah daerah, namun pencurian tetap saja terjadi.

Bagi masyarakat yang tinggal di Kiki Gunung Salak, keberadaan gunung ini adalah  sumber anugerah yang luar biasa.  Namun ketika gunung ini tak lagi bisa memberikan kesejahteraan buat warga, banyak yang meniggalkannya dan berpindah  ke kota. Menurut Udin Riki, salah seorang warga, kini banyak penduduk di Kaki Gunung Salak yang menjual tanahnya.

“Sekarang, di gunung tuh, macam Gunung Salak Endah atau Curug Luhur, sekarang pejabat di Jakarta yang banyak duitnya banyak bikin vila atau tempat periwisata. Sementara masyarakat sendiri lahannya pada dijual. Jadi buat ke depan, buat anak-anak kemana itu arahnya? Saya nggak tahu juga. Saya pikir ada yang punya tanah 2-3 petak, dibeli tanahnya oleh pendatang, diambil pasirnya, batunya, lama-lama buat ke depan anaknya dari mana. Bahkan merusak,” kata Udin sedikit geram.

Deni Ramli, warga Cihideung Udik, Kecamatan Ciampe Bogor berharap, Festival Gunung Salak bukan sekedar pesta-pesta yang digelar di kaki gunung. Tapi bisa mengubah kehidupan warga yang tinggal di kaki Gunung Salak. Melalui festival ini, diharapkan semua mata mau melihat nasib Gunung Salak dan berhenti merusaknya.

Tari Merak / Bagong Rasta

“Masyarakat menganggap Gunung Salak adalah ikon buat kami. Dengan adanya Gunung Salak, imbasnya besar. Kita bisa berbangga hati dengan adanya Gunung Salak. Kedua, dengan berdekatan dengan gunung sendiri, hawa atau kulturnya sangat kuat,” tambah Deni.

Sumber: KBR68H, 2 November 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s