Gunung Salak: Gunung Kami Siapa Punya

26 Oktober 2010 – 16:27 WIB

Hervin Saputra

Gunung ulah dilebur. Lebak ulah dirusak.

Di sela sayup musik jaipong, Saki terus menghujamkan tembilangnya ke tanah basah. Sesekali tembilang berderak menghantam batu.

Dengan kakinya yang kekar, lelaki 42 tahun ini mendorong batu menggelinding ke dasar gundukan. Di bawah, seorang sudah menunggu untuk memunguti batu.

Sejak 10 tahun terakhir, Saki menggali tanah di Desa Klapa Tujuh, Cihideung Udik, Ciampea, Kabupaten Bogor. Kini tanah itu berubah menjadi ngarai dengan tebing dangkal.

”Kerja begini mah kerja kasar. Kalau nggak biasa ya nggak kuat. Tapi kalau saya mah, karena udah kerjaan sehari-hari, gak terasa kasar lagi,” kata Saki.

Saki mengaku pernah menjadi pedagang sayur di Pasar Anyar, Bogor. Sayang, usahanya lebih sering tekor ketimbang untung. Dia kembali ke desa dan menjadi tukang batu.

Dengan menggali dan memecah batu, Saki mendapatkan Rp 30 ribu per hari. Penghasilan itu untuk menghidupi istri dan empat anak.

Saki tinggal di kawasan Gunung Salak yang subur dan kaya sumber daya alam. Selain hutan dan pertanian, Gunung Salak memiliki mata air besar yang dialirkan ke botol-botol minuman kemasan.

Di Pongkor, PT Aneka Tambang melakukan penggalian emas sejak tahun 1998. Gunung Salak juga menyimpan panas bumi yang sekarang digarap untuk pembangkit tenaga listrik.

Kekayaan Gunung Salak tidak melimpah ke keluarga Saki. Dia tetap menjadi tukang batu di tanah airnya, sama dengan bapaknya dulu. ”Waktu muda, saya sudah ikut orang tua jadi tukang batu,” ujarnya.

Seperti kebanyakan orang tua di Cihideung Udik, Saki memiliki anak yang masih menganggur. ”Bujang saya dua, masih nganggur. Mau kerja di sini kerja apa? Nggak ada kerjaan,” katanya.

Nasib Acih, warga Cihideung Udik, setali tiga uang dengan Saki. Anak lelaki Acih yang berusia 20 tahun, kerjanya hanya ngalor-ngidul keliling kampung. “Mau kerja apa atuh? Kalau ada kerjaan pabrik di sini, enak. Saya juga mau,” ujar Acih.

Suami Acih sopir truk pengangkut batu dan pasir dari tempat Saki bekerja. Sekali tarik, suami Acih diupah Rp 5 ribu. “Paling sehari dapat Rp 20 ribu.”

Acih mengajak saya mampir ke rumahnya tidak jauh dari lokasi penambangan batu. Kabut baru beranjak turun dari puncak Salak.

Acih berkisah tentang siasatnya mengolah tanaman di sekitar rumah untuk makanan keluarga di kala paceklik. ”Kalau lagi nggak ada duit, saya masak sayur katuk. Beras minjam dulu sama tetangga,” tuturnya.

Sesekali Acih meminjamkan ikan emas yang dipeliharanya di tambak depan rumah kepada tetangga yang menggelar hajat. Di desa ini, sudah tradisi pinjam-meminjam bahan makanan seperti ayam dan ikan. ”Kalau ada orang hajat, biasanya minjam (ikan) berapa kilo. Nanti kalau kita perlu, yang minjam bayar lagi pakai ikan. Ya, hitung-hitung nabung,” kata Acih.

Acih pernah menjual ikan-ikan peliharaannya. Sebagian hasilnya dibelanjakan alat masak dan penanak nasi listrik. Penanak nasi itu disiapkan sebagai bekal anaknya menikah. “Di sini orang nikah ngumpulin barang. Saya beli magic com untuk anak saya. Jadi, waktu nikah dia sudah punya,” ujarnya.

Untuk menutupi kebutuhan keluarga, Acih kerap meminjam uang ke bank atau tukang kredit. Pinjaman dicicil setiap bulan dari upah menjahit jilbab. Acih menerima upah Rp 1.500 per jilbab.

Pengangguran dan Budaya Kota

Belasan remaja usia tanggung malu-malu naik ke atas panggung. Sore itu mendung. Badai mengancam di kejauhan.

Setelah angin kencang dan hujan deras reda, Festival Gunung Salak dilanjutkan. Dalam undangan ”pesta warga Gunung Salak” dicantumkan beberapa petinggi perusahaan akan hadir.

Ide menggelar musyawarah desa melibatkan warga dan perusahaan pengelola Gunung Salak, batal. Hingga malam, pihak perusahaan tak kunjung datang.

Jadilah sore itu panitia hanya menyerahkan hadiah kepada anak-anak kampung yang memenangi lomba balap karung, egrang, dan balap gundu. Sebagai hiburan, panitia dara remaja diminta naik pentas untuk menyanyi.

Gadis-gadis Cihideung Udik ramai-ramai naik panggung. Mereka menyanyikan tiga lagu dangdut “koplo” yang sedang populer: Keong Racun, Cinta Satu Malam, dan Hamil Muda. Mereka fasih menyanyikan lagu dengan lirik berbau mesum itu. Meski sesekali sumbang, penyanyi-penyanyi dadakan ini tampak riang diiringi orkes jaipong.

Dalam salah satu lagu yang mereka nyanyikan, saya mendengar lirik “belah duren”. Kata ini menurut pengertian awam, bermakna bercinta pertama kali di malam pengantin.

Remaja berusia 15 tahunan ini tidak lagi canggung menyanyikan lagu dengan diksi berkonotasi “mesum” tersebut.

Fakta ini menunjukkan kebudayaan populer melalui televisi menyusup ke kehidupan pemuda desa tanpa negosiasi alot. Serta merta para gadis merasa up to date jika mampu melekatkan identitas bintang televisi dalam hidup sehari-hari.

Risma, siswa kelas III SMP Hanura Cihideung Udik, mengatakan teman-temannya tak melanjutkan sekolah selepas SMP. Sebagian menganggur, menunggu pinangan jejaka yang mencari pasangan. Sebagian lagi merantau ke Jakarta dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga atau buruh pabrik.

“Kebanyakan mereka putus sekolah karena alasan ekonomi,” ujar Risma yang mengaku berniat sekolah hingga perguruan tinggi.

Risma menggengam handphone. Menurut dia, sebagian besar temannya memiliki telepon genggam. Ganjil jika ada teman yang tak memiliki HP. Telepon genggam, apalagi berkamera, menjadi identitas anak muda di banyak kampung. “Saya punya Facebook,” kata Risma.

Tren teknologi dan budaya pop, pincang karena tak berbanding lurus dengan tingkat pendidikan remaja Cihideung Udik. Musik populer, televisi, HP, sepeda motor, dan Facebook, menyebar di tengah anak muda tanpa pekerjaan.

Ryan, pemuda Cihideung Udik, mengaku tak punya pekerjaan tetap. Saban hari hanya nongkrong. Kadang-kadang bekerja serabutan. Pada tahun 2007 Ryan pernah bekerja menjaga toko di Glodok, Jakarta. Upahnya per bulan  Rp 300 ribu plus uang makan Rp 15 ribu per hari.

Menurut Ryan, kebanyakan bujangan di kampungnya pengangguran. Anak muda malu menyentuh cangkul dan bergelut di ladang. Sebagian besar terpengaruh nilai kota yang diperoleh lewat televisi dan internet. ”Di sini, anak-anaknya gengsi ke sawah. Pada gaya, padahal nggak punya duit,” ujarnya. (E1)

Foto: VHRmedia/ Hervin Saputra

Sumber (teks dan foto): VHR Media, 26 Oktober 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s