Jamu (Indonesia)

Oleh : Moch Ridwan SM

Jamu adalah sebutan untuk ramuan tradisional dari Indonesia. yang kini populer dengan sebutan herba atau herbal.   Pada umumnya jamu dibuat dari bahan-bahan alami, berupa rempah-rempah atau bagian dari tumbuhan seperti rimpang (akar-akaran), daun-daunan dan kulit batang, maupun buahnya. Selain itu kadang juga digunakan bahan tambahan yang berasal dari tubuh hewan, seperti empedu kambing atau tangkur buaya. Karena kebanyakan jamu terasa pahit, maka perlu ditambah madu sebagai pemanis agar rasanya lebih dapat ditoleransi peminumnya.

Distribusi Jamu Tradisional

Di berbagai kota besar di Indonesia masih sering dijumpai penjual jamu gendong yang berkeliling menjajakan jamu, yang pada umumnya perempuan. Merekalah ujung tombak pemasaran jamu tradisional dengan pangsa pasar kalangan kelas bawah yang memilih jamu sebagai alternatif pemeliharaan kesehatan mereka, Peran para penjual jamu gendong tidak bisa dianggap enteng. Karena keberadaan mereka, sebagian masyarakat Indonesia masih mengingat kekayaan budaya pengobatan tradisional warisan leluhur kita, di tengah gencarnya serbuan produk-produk herbal dari luar negeri. Setidaknya para penjaja jamu gendong ini adalah pelestari budaya pengobatan lokal yang nyaris kita abaikan. Jamu yang mereka jajakan disebut jamu gendong karena dalam berjualan, jamu-jamu  yang ditempatkan dalam botol, digendong dengan menggunakan bakul dan selendang, meski sekarang banyak yang berjualan dengan gerobag dorong.

Jenis Jamu yang dijual sangat bervariasi meski secara standar jenisnya sama. Ini tergantung dari kebiasaan yang mereka pelajari lewat pengalaman mengenai jamu apa yang diminati, serta pesanan yang diminta oleh pelanggan.. Dari hasil survei, paling tidak jenis jamu yang dijual oleh responden dalam penelitian ini kurang lebih ada delapan, yaitu beras kencur, cabe puyang, kudu laos, kunci suruh, uyup-uyup/gepyokan, kunir asam, pahitan, dan sinom. Masing-masing jenis jamu disajikan untuk diminum tunggal atau dicampur dengan jenis yang lain. Beberapa di antara responden, selain menyediakan jamu dalam bentuk cair   juga menyediakan jamu serbuk atau pil produks industri. Lazimnya jamu diminum dengan cara diseduh air panas, terkadang dicampur jeruk nipis, madu, kuning telor, dan selanjutnya minum jamu sinom atau kunir asem sebagai penyegar rasa.

Proses Produksi

Dalam pengolahan atau proses produksi jamu tradisional ini, ramuan dibuat berdasar resep dengan bahan baku standar, sedang variasi atau bahan tambahannya  tergantung dari pengetahuan dan pengalaman peracik jamu, dari mana mereka magang dan belajar meramu resep, serta dari kebutuhan dan selera konsumen yang mereka layani. Pemberian bahan tambahan itu biasanya dimaksudkan untuk memperbaiki warna, rasa, maupun khasiat.yang memberikan karakter khas bagi tiap peracik jamu,  yang akhirnya menjadi resep andalan mereka.

Dalam meracik jamu gendong, alat-alat yang dipergunakan masih sederhana berupa alat penumbuk yang terbuat dari batu (pipisan), atau lumpang besi. Kini alat modern seperti blender juga lazim digunakan untuk menghemat waktu dan tenaga. Bahan-bahan yang sudah ditumbuk lalu direbus dalam air mendidih untuk didapatkan sari dari ramuan tersebut.  Kalau air rebusan sudah dingin, disaring dan dikemas ke dalam botol-botol yang tersedia.  Cara lain adalah dengan memeras kandungan/sari reramuan, lalu air perasan dicampur dengan air  yang sudah matang. Sebagai pemanis rasa jamu, pada umumnya digunakan gula merah dan atau gula pasir, tetapi ada pula yang menambahkan gula obat (saccharin) untuk menangguk keuntungan.
Jenis-jenis Jamu Gendong

Pada umumnya khasiat masing-masing jamu tergantung dari bahan-bahan pokok yang digunakan. Pengetahuan ini didapat secara empiris, dan kini telah banyak yang dikonfirmasikan melalui penelitian laboratorium. Adapun dari hasil survei tentang jenis jamu yang dijual penjaja jamu gendong, yang populer di masyarakat antaranya adalah :

1. Jamu Beras Kencur

Jamu beras kencur berkhasiat untuk menghilangkan pegal-pegal pada tubuh, serta merangsang nafsu makan. Dua bahan dasarnya adalah beras dan kencur. Jamu ini selalu ada meskipun komposisinya tidak selalu sama di antara penjual jamu. Bahan-bahan lain yang biasa dicampurkan ke dalam racikan jamu beras kencur adalah biji kedawung, rimpang jahe, biji kapulogo, buah asam, kunci, kayu keningar, kunir, jeruk nipis, dan buah pala.

2. Jamu Kunir Asam

Kunir asam dikenal sebagai jamu ‘adem-ademan atau seger-segeran’ yakni untuk menyegarkan tubuh, mencegah panas dalam atau sariawan, serta mendinginkan perut. Konon baik untuk ibu yang sedang hamil muda, menyuburkan kandungan serta melancarkan haid. Bahan utama jamu ini adalah buah asam dan kunir/kunyit, kadang  dengan campuran sinom (daun asam muda), temulawak, biji kedawung, dan air perasan buah jeruk nipis.

3. Jamu Sinom

Jamu ini tidak terlalu berbeda dengan jamu kunir asam. Perbedaan hanya terletak pada tambahan bahan sinom (daun asam yang masih muda). Bahkan, beberapa penjual tidak menambahkan sinom, tetapi dengan cara mengencerkan jamu kunir asam dengan mengurangi jumlah bahan baku yang selanjutnya ditambahkan gula secukupnya.

4. Jamu Cabe Puyang

Bermanfaat sebagai jamu ‘pegal linu’, yakni untuk menghilangkan cikalen, pegal, dan linu-linu di tubuh, terutama pegal-pegal di pinggang, menghilangkan dan menghindarkan kesemutan, serta menghilangkan keluhan badan panas dingin atau demam. Konon, baik untuk ibu yang sedang hamil tua. Bahan pokoknya adalah cabe jamu dan puyang. Tambahan lain sangat bervariasi, antara lain temu ireng, temulawak, jahe, kudu, adas, pulosari, kunir, merica, kedawung, keningar, buah asam, dan kunci.

5. Jamu Pahitan

Jamu pahitan dimanfaatkan untuk berbagai masalah kesehatan seperti gatal-gatal dan kencing manis,   ‘cuci darah’, kurang nafsu makan, menghilangkan bau badan, menurunkan kolesterol, perut kembung/sebah, jerawat, pegal, dan pusing. Khusus untuk jamu pahitan, tidak semua pembuat jamu mampu meracik sendiri bahan-bahannya. Beberapa penjaja membeli racikan jamu pahitan dari tempat asalnya, di Solo. Bahan baku dasar dari jamu pahitan adalah sambiloto. Racikan pahitan sangat bervariasi, ada yang hanya terdiri dari sambiloto, tetapi ada pula yang menambahkan bahan-bahan lain yang rasanya juga pahit seperti brotowali, widoro laut, doro putih, dan babakan pule. Ada pula yang mencampurkan bahan lain seperti adas dan atau empon-empon. Untuk jamu pahitan, tidak diberikan bahan pemanis. Sebagai penawar rasa pahit, konsumen minum jamu gendong lain yang mempunyai rasa manis dan segar seperti sinom atau kunir asam.

6. Jamu Kunci Suruh

Jamu kunci berkhasiat mengobati keluhan keputihan (fluor albus), merapatkan bagian intim wanita (vagina), menghilangkan bau badan, mengecilkan rahim dan perut, serta dikatakan dapat menguatkan gigi. Bahan baku jamu ini rimpang kunci dan daun sirih. ditambahkan buah asam yang masak. Beberapa penjual jamu menambahkan bahan-bahan lain yang dikenal mencegah keluhan wanita seperti buah delima, buah pinang, kunci pepet, dan majakan. Kadang ditambahkan pula, jambe, manis jangan, kayu legi, beluntas, dan kencur.

7. Jamu Kudu Laos

Berkhasiat menurunkan tekanan darah, melancarkan peredaran darah, menghangatkan badan, membuat perut terasa nyaman, menambah nafsu makan, melancarkan haid, dan menyegarkan badan. Bahan bakunya buah mengkudu masak ditambah rimpang laos dan biasanya ditambahkan buah asam masak (asam kawak). Sedangkan bahan tambahan adalah merica, bawang putih, kedawung, jeruk nipis, bahkan ada yang menambahkan tape singkong.

8. Jamu Uyup-uyup/Gepyokan

Jamu ini berkhasiat meningkatkan produksi air susu ibu, menghilangkan bau badan yang kurang sedap dan ‘mendinginkan’ perut. Bahan baku jamu uyup-uyup biasanya terdiri dari bahan empon-empon yang terdiri dari kencur, jahe, bangle, laos, kunir, temulawak, puyang, dan temugiring.

9. Jamu Temulawak ( Curcuma Xanthorriza. Roxb. )

Temulawak mempunyai fungsi sebagai hepatoprotektor (melindungi hati ) dari berbagai penyakit yang menyerang lever, diantaranya hepatitis, memiliki efek farmakologi anti sembelit, acne vulgaris (menyingkirkan jerawat), anti inflamasi, dan anti hepatotoksid, pelancar ASI, tonikum, peluruh air seni, anti jamur dan menghambat bakteri, juga dapat menjadi obat penyakit maag, bau badan, asma, cacar air, sariawan, dan penyakit kandung empedu.

Memang khasiat jamu lebih bersifat preventif daripada kuratif. Namun manfaatnya diakui oleh masyarakat luas, selain lebih murah dan mudah didapat di sekitar kita. Untuk itu para penjual jamu gendong sebagai aktor penting dalam melestarikan budaya minum jamu perlu mendapat tambahan pengetahuan tentang rempah-rempah yang mereka gunakan, berikut cara pengolahan jamu yang lebih higienis.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s