Koalisi Rakyat Tolak ACFTA Audiensi dengan FPAN DPR

Laporan Koordinator Koalisi Rakyat Tolak ACFTA, Revitriyoso Husodo

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Koalisi Rakyat Tolak ACFTA yang terdiri dari Institute for Global Justice (IGJ), Forum Intelektual HI Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI), Korps Mahasiswa HI UAI (KOMAHI), Forum Komunikasi Mahasiswa Hubungan Internasional Indonesia (FKMHII) Korwil II DKI Jakarta & Banten, Federasi Serikat Pekerja Kimia Energi dan Pertambangan (FSP KEP) SPSI, Front Kebudayaan Nasional (FKN), Senin (7/6/2010) siang, akan mengadakan, audiensi dengan Fraksi Partai Amanat Nasional (F-PAN) DPR RI.

Dalam audiensi yang akan berlangsung di Wisma Nusantara 1 DPR RI, Ruang F-PAN, Lantai 20 Kamar 25, Koalisi Rakyat Tolak ACFTA akan sampaikan tuntutan pembentukan Pansus ACFTA dan Badan Pengawas Pansus ACFTA. Sebelumnya, Koalisi Rakyat Tolak ACFTA telah mengadakan Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan Komisi VI DPR RI pada 25 Mei 2010.

Kegagalan pemerintah merenegosiasi 288 pos tarif dalam kerangka kesepakatan perdagangan bebas ASEAN-China (ACFTA) dalam pertemuan komisi bersama (Joint Commission Meeting) Indonesia-China yang ke-10 di Yogyakarta, 3 April lalu, menunjukkan lemahnya posisi pemerintah Indonesia. Selain ACFTA, Indonesia juga sangat aktif melakukan kesepakatan perdagangan bebas, beberapa di antaranya adalah ASEAN FTA (AFTA), ASEAN-Australia-New Zealand FTA(AANZFTA), ASEAN-Korea FTA, dan Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA). Beberapa yang masih dalam proses adalah ASEAN-EU FTA,ASEAN-India FTA, Indonesia-US FTA, dan Indonesia-EFTA (Swiss, Leichestein, Norwegia dan Islandia).

Diberlakukannya ACFTA akan membuat semakin membanjirnya produk-produk impor dengan harga yang lebih kompetitif dibandingkan dengan produk lokal, sehingga industri nasional satu persatu tutup buku. Lebih jauh, hal ini semakin mengarah pada PHK massal, diperkirakan pada akhir tahun 2010 akan menimpa 4,5 juta pekerja.

Pada ujungnya Indonesia akan mengalami masa deindustrialisasi akut, tidak mampu memproduksi, melainkan hanya mengkonsumsi kebutuhan untuk hidup dan masyarakat indonesia akan semakin terpuruk ke dalam kemiskinan. Negara telah menjadi agen neoliberalisme, membuka pasar seluas-luasnya bagi produk-produk asing, tidak menunjukkan keberpihakan kepada industri nasional untuk tumbuh dan bersaing. (*)

Sumber: TribunNews, 7 Juni 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s