MEMULIAKAN KERIS, MENYUMBANG KEARIFAN KOLEKTIF BAGI KEMANUSIAAN

MEMULIAKAN KERIS,

MENYUMBANG KEARIFAN KOLEKTIF BAGI KEMANUSIAAN

Keris, sebagai salah satu bentuk warisan budaya yang sangat penting bagi kebudayaan-kebudayaan Nusantara, tidak yang hanya termasuk ke dalam wilayah negara kesatuan Republik Indonesia, namun lebih luas lagi pula di kebudayaan Malaysia, Brunei, Filipina (khususnya Mindanao), Thailand hingga Laos. Pada saat ini, keris sedang menghadapi berbagai dilema dalam pengembangan serta dalam menyumbangkan kebaikan-kebaikan yang terkandung di dalamnya kepada nilai-nilai kemanusiaan di muka Bumi ini.

Setidaknya sejak abad ke-9, sebagai sebuah dimensi budaya, Keris tidak hanya berfungsi sebagai alat beladiri, namun sering kali merupakan media ekspresi berkesenian dalam hal konsep, bentuk, dekorasi hingga makna yang terkandung dalam aspek seni dan tradisi teknologi arkeometalurgi. Dalam aspek seni, keris memiliki fungsi sebagai seni simbol, dimana keris adalah perlambang dari pesan sang empu penciptanya. Hal ini tersurat pada doa-doa atau mantera-mantera yang menggerakkan energi metafisis untuk apa benda tersebut diciptakan, terlepas dari penciptaan sebuah keris berangkat dari eksplorasi individu sang empu semata ataupun pesanan.

Sementara dalam aspek arkeometalurgi, pembuatan keris melalui proses penempaan dengan menggunakan intuisi dan rasa berbeda sehingga menghasilkan kekerasan unik setiap keris sesuai dengan kebutuhan konsep keris tersebut. Sedangkan dengan teknologi modern melalui karburasi quenching (pengerasan logam) yang terukur dan seragam. Para empu menggunakan teknologi tradisional dalam pengerasan logam dengan bahan-bahan yang tidak terbayangkan oleh teknologi modern misalkan penggunaan tumbukan bunga sepatu dan daun mangkok-mangkokan sebagai bahan pendingin. Juga fakta yang cukup mencengangkan bahwa hasil penemuan Haryono Arumbinang, Sudyiartomo dan Budi Santoso. Bahwa 13 dari 14 tosan aji (8 bilah keris, 5 tombak dan sebilah pedang) yang diteliti dari zaman Mataram (abad 14-15) mengandung unsur Titanium, logam yang sama kuat namun 60 persen lebih ringan dari baja. Jenis logam ini baru diketemukan oleh teknologi barat pada tahan 1940 dan dikembangkan untuk teknologi militer, transportasi, roket dan teknologi ruang angkasa.

Dari sudut perdagangan, aspek desain dan materi yang digunakan sangat berhubungan dengan perjanjian TRIPs (Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights) di WTO (World Trade Organization). Dimana semangat individualisme dalam bentuk hak kepemilikan individu menjadi nyawa bagi pengaturan hak cipta maupun hak paten. Hal ini dapat berimplikasi luas bagi pengembangan kearifan lokal sebagai pemerkaya nilai-nilai kemanusiaan secara global. Termasuk juga dunia keris sebagai sebuah bentuk utuh dari warisan budaya Nusantara. Untuk itu perlu dibangun pemahaman kritis serta proteksi dari negara maupun masyarakat sehingga inovasi kolektif ini tetap milik masyarakat luas.

Banyak kebaikan-kebaikan dari Ilmu Kerisologi, kalau dapat disebut demikian, dapat mempermudah kehidupan manusia. Di antaranya, sebagai media terapi penyembuhan permasalahan psikologis serta teknologi metalurgi bagi peralatan yang membutuhkan spesifikasi bahan dasar logam yang serupa, misalnya teknologi untuk kepentingan damai dan teknologi yang membantu manusia dalam penjelajahan ke dalam ruang-ruang yang masih gelap dari ilmu pengetahuan. Namun melihat kerumitan dari kebaikan-kebaikan yang dikandung dari keris-keris kuno maka dapat diambil kesimpulan bahwa untuk melestarikan seni perkerisan perlu dikembangkan sebuah cabang ilmu pengetahuan baru. Bukan mengupayakan untuk diprivatkan apalagi dirahasiakan demi keuntungan individu tertentu. Ilmu tentang keris sebaiknya dikembangkan melalui penelitian yang ilmiah untuk kemudian disebarluaskan sehingga dunia perkerisan dapat berkembang dalam bentuk-bentuk yang lebih canggih dan lebih berfungsi di jaman yang semakin maju ini.

Revitriyoso Husodo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s