Sentuhan tradisional dan modern

Semua berangkat dari pemahaman bila perubahan zaman adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Sehingga sangat mungkin budaya tradisional bersentuhan dengan yang modern dalam proses perubahan zaman itu. Dalam bidang transportasi saja, modernisasi telah membuat mobilitas manusia menjadi cepat dan dunia semakin sempit. Ditengah modernisasi, manusia bisa mendapatkan banyak informasi tanpa harus pergi dari rumahnya. “Namun, manusia modern juga hidup dalam suasana individualistik, memiliki kecenderungan mementingkan individu dari pada sosial”.
Dunia modern mempunyai 3 pilar penopang utama:
1. Ilmu pengetahuan yang mendorong teknologi tinggi sehingga menyebabkan manusia bersifat sekuler, lebih mementingkan dunia.
2. Pandangan yang berpaham liberalisme-humanisme.
3. Sistem kapitalisme dalam ekonomi.
Semuanya dengan membawa konsekwensi logis baik dampak positif maupun negatif, terutama pada terjadinya pengaruh langsung terhadap moral manusia.
Untuk memahami latar belakang tumbuhnya dunia modern, kita tidak bisa lepas dari sejarah abad tengah di Eropa. Sebab momen abad tengah (abad kegelapan) sesungguhnya merupakan awal dari persoalan kemanusiaan modern sekarang.

Munculnya globalisasi tidak dapat lepas dari perkembangan antroposentrisme dan positivisme abad tengah sebagai reaksi atas gereja otoriter yang mengembangkan hegemoninya atas akal budi manusia. Maka muncul anggapan bahwa agama menjadi penghambat perkembangan otonomi manusia, dan muncul paham sekularisme sebagai sumber moral manusia modern.
Perkembangan di Barat sejak abad tengah, ditandai dengan revolusi industri. Modernisasi secara implisit merupakan proses yang menghilangkan nilai-nilai tradisional, yang secara fraktal itu adalah nilai agama dan nilai rohaniah. Dengan pemahaman itu, modernisasi didunia merupakan akibat proses global yang didalamnya terimbas oleh paham materialisme dan sekularisme.

Harus diakui, di saat sekarang juga muncul wacana kebudayaan tradisional yang bersifat lokal sebagai tandingan globalisasi dan globalisme. Secara denotatif, gaya lokal menunjukkan ketidak- universalan, partikularisme, bahkan temporal. Sementara gaya global menunjukkan universitalitas, holistik dan teruji. Namun kini secara konotatif, globalisme menunjukkan pada standarnisasi gaya hidup dan nilai, degradasi moral, bahkan penindasan. Sedangkan lokalisme tradisional hendak diangkat kembali sebagai alternatif nilai yang mampu membantu pemecahan masalah kemanusiaan.
Masyarakat tradisional maupun modern sesungguhnya sudah melewati perjalanan kulturalnya melalui tantangan, masalah, dan akhirnya menemukan jawaban yang memuaskan melalui proses panjang, bukan loncatan-loncatan yang menyimpang dari logika budaya “tradisional” berdasarkan jawaban persoalan yang tetap menjaga harmoni hubungan dengan alam, sesama, dan yang transenden, waktu mengalir secara siklus dan tidak butuh teknologi canggih untuk hidupnya. Sedangkan “modern” adalah masyarakat yang bersifat otonom, perhitungan waktu ketat dan membutuhkan teknologi untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya.

Yogyakarta dapat bermakna simbolik sebagai aktualisasi kebudayaan yang bersifat dinamik, hingga setiap peristiwa, fenomena, wacana yang mungkin biasa bagi kota lain, akan menjadi isu yang luar biasa. Kasus seks bebas, penyalah-gunaan obat di kos-kosan kendati persentasenya kecil, tetap akan menjadi isu besar karena terkait dengan citra dan identitas sebagai kota pelajar. Begitu pula wisatawan kecopetan, warung lesehan pasang tarif tinggi, serta merta akan merusak citra kota wisatawan. Wacana tentang parkir bawah tanah sebagai kebutuhan yang timbul akibat dinamika, fakta berdirinya banyak mal bahkan di bangun diatas kawasan maupun bangunan bersejarah dengan corak arsitektur khas, yang semuanya itu sebagai bagian dari dinamika masyarakat akan menjadi persoalan serius, karena menyangkut terganggunya simbol-simbol kesadaran sosial budaya masyarakatnya.

Persoalan sesungguhnya dari sisi kebudayaan adalah ketika perubahan kehidupan budaya itu berlangsung secara mendadak dan tidak pernah disiapkan secara utuh oleh masyarakat bersangkutan. Misalnya, masyarakat mempunyai pandangan kosmologis yang tiba-tiba saja harus berubah, karena gencarnya arus teknologi sebagai produk masyarakat. Perubahan mendadak tersebut akan membuat masyarakat seperti di langit tak berujung, di tanah tak berpijak.
Saat ini kita hidup dalam zaman yang berkembang secara cepat, karena kemampuan manusia telah jauh melampaui batas dari yang dapat terkontrol oleh perhitungan manusia itu sendiri. Perubahan itu, di satu pihak membawa kemajuan, tetapi di pihak lainnya membawa kegelisahan, kekhawatiran, keterasingan manusia.
Oleh karena itu diperlukan suatu gerakan budaya, berupa program penyadaran yang secara pro-aktif memberikan jawaban atas persoalan-persoalan yang timbul akibat perkembangan budaya manusia.

Ada peluang untuk merefleksikan perkembangan dewasa ini, dengan cara kembali ke aspirasi fundamental diri manusia, yaitu pemahaman atas kesatuan antara kebenaran Tuhan semesta alam, kebajikan moral, dan keindahan.

by: Joni Candra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s