Jati Diri Bangsa

Di Indonesia jumlah bahasa maupun etnic mencapai ratusan dan pulau-pulau yang dihuni mencapai ribuan. Dari karakter fisik manusia Indonesia menunjukkan gradasi warna kulit, liputan kelopak mata, rambut keriting sampai lurus yang secara umum digolongkan kedalam ras Mongoloid dan Australomelanesid. Hampir tidak mungkin seorang Indonesia murni tanpa bercampur, karena orang-orang India, Cina, Portugis, Belanda, bahkan Inggris dan Jepang telah mengunjungi berbagai pulau di Indonesia selama berabad-abad. Kontak penduduk antar pulaupun telah berabad-abad terjadi di Nusantara, ketika berbagai kerajaan pernah berjaya dengan masyarakat bahari yang memiliki kapal-kapal untuk transportasi perdagangan yanng disertai asimilasi. Studi fitur wajahpun menunjukkan gradasi lipatan kelopak mata, dan variasi bercampur dari puluhan generasi. Bahasa Indonesiapun menyerap bahasa Sansekerta, Arab, Cina, dan Portugis diantaranya; kata guru, bendera, dan sepatu.. Para pendiri bangsa Indonesia telah memahami dengan arif sehingga meletakkan Bhinneka Tunggal Ika sebagai lambang keragaman fisik, bahasa, kondisi geografis, budaya, dan kepercayaan rakyat Indonesia.
Sejarah mencatat bahwa agama-agama yg masuk ke Indonesia berasal dari Timur Tengah seperti Islam, Nasrani, Budha, Hindu, dan Khonghucu. Kearifan lokal tentang bagaimana menjalani kehidupan seperti Kejawen dan Kaharingan tidak dianggap sebagai agama oleh pemerintah Indonesia. Di negeri lain, kepercayaan dan praktek kebudayaan masyarakat Andes, suku Aymara dan Quechua di Peru, Chile dan Bolivia dianggap sebagai agama; disamping masuknya agama Nasrani dari pengaruh Spanyol yang masuk di abad 16an (the Andean Religion).
Sejauh pengetahuan penulis, Indonesia adalah satu-satunya negara yang memasukkan data agama pada kartu identitas penduduknya. Di negeri-negeri lain, agama menjadi wilayah pribadi yang mana menanyakan agama seseorang dianggap kurang santun.

Diantara ribuan pulau di Indonesia, Jawa adalah paling padat penduduknya dan merupakan magnet bagi penduduk pulau lain untuk merantau. Hal ini tidak hanya karena pembangunan yang kurang merata diluar Jawa, tetapi juga ibukota Republik ada di pulau Jawa. Oleh karenanya, penulis berusaha menilik jati diri orang Jawa dari buah pikiran orang Jawa kuno, sebagai salah satu etnic terbanyak bangsa Indonesia.
Selama ini, modernisasi dengan hiburan dan kemudahan-kemudahan yang cenderung konsumtif dan budaya populer bukannya memperkuat jati diri bangsa, namun malah memudarkan ajaran-ajaran kearifan yg dibuat nenek moyang kita. Sebenarnya orang Jawa telah membuat pengetahuan kearifan kewajiban manusia, misalnya dalam Kitab Adammakna yang memuat 6 petuah untuk dijalankan dan pantangan untuk dihindari. Diantaranya, mengakui dan menyembah Tuhan, merawat Bumi sumber penghidupan, berusaha sempurna budinya, welas asih dan tenggang rasa terhadap sesama manusia, tidak mengingini kepunyaan orang lain, tidak sewenang-wenang, dan menghargai 4 penuntun mata angin.
Dari sisi Antropologis, kitab Adammakna yang merupakan penuntun kehidupan ini bisa dipandang sebagai agama. Sekarang ini berbagai perilaku manusia Jawa menunjukkan semakin pudarnya pemahaman falsafah Jawa yang merupakan warisan leluhur. Merawat alam tidak dilakukan, bahkan penebangan berjuta pohon terus terjadi tanpa penanaman pohon baru, menjual kekayaan bumi Indonesia keluar negeri untuk keuntungan diri dan kelompok tanpa rasa welas asih bagi warga negeri sendiri. Welas asih dan tenggang rasa tidak tercermin dari sikap yg ’elu elu gue gue’ dan memusuhi yang tidak sepaham. Korupsi menggambarkan ketidak perdulian ajaran untuk tidak mengingini kepunyaan orang lain.

Selain kitab Adammakna, surat Jayabaya mengandung petuah agar manusia mencintai kehidupan dan meneruskan cinta itu kepada sesama hidup. Eyang Jayabaya juga mengajarkan agar manusia menjaga keseimbangan budi, rasa, pikiran, dan angan-angan. Dalam ilmu pengetahuan, seseorang ilmuwan yg mendapat ide penelitian tidak hanya karena pikiran rasional dan kekayaan bacaannya, tetapi juga intuisi (rasa), imaginasi (angan-angan), dan budi yang bertanya-tanya pentingkah penelitian ini bagi manusia dan alam serta kemajuan. Pemikir Jawa juga telah memahami benar pentingnya manusia menjaga alam untuk kehidupannya, dengan pepatah melu memayu hayuning buwana ikut mengharumkan indahnya alam semesta. Buah pikiran orang Jawa kuno ini memiliki falsafah Antropokosmos bahwa manusia adalah bagian dari alam (part of nature).
Suatu pemikiran yang sangat maju, karena pada awalnya dunia ilmu pengetahuan orang barat menganggap manusia sebagai sosok paling mulia, dimana manusia merupakan pusat yang harus diperhatikan lebih dari lainnya di alam semesta, yang disebut pandangan Antropocentris.
Buah pikiran orang Jawa kuno yang mengajarkan agar manusia menyayangi alam semesta mengandung strategi survival (ketahanan hidup) manusia itu sendiri. Tubuh manusia 75% mengandung air, tanpa air manusia binasa, sehingga sesepuh Jawa ini me’wingit’kan pohon-pohon besar agar tidak seorangpun berani menebang. Secara ilmiah, akar-akar yang menjalar kuat adalah pengikat air dalam tanah agar tiada kekeringan melanda. Sendang dan sungai sebagai sumber mata airpun dahulu di’wingit’kan, dan tak ada yg berani berbuat tidak senonoh dan mengotori. Kini, dengan ijin pemerintah, sumber-sumber mata air di Klaten airnya disedot oleh perusahaan air minum asing, sehingga lahan petani sekitarnya mengalami kekeringan. Bukit-bukit di’angker’kan oleh nenek moyang kita, sehingga tidak ada yang berani menebangi pohon-pohonnya apalagi menjadikan vila-vila, sehingga daerah resapan air ini menahan banjir didataran lebih rendah dan memelihara deposit air tanah untuk menghidupi penduduk.

Tingginya kandungan falsafah Jawa dalam pemahaman bahwa manusia adalah bagian dari alam yang kehidupannya bergantung pada bumi tertuang pula dalam pemikiran Jawa bahwa manusia berkerabat dengan segala yang ada di alam semesta; dan bahwa wadag cilik (fisik manusia) terdapat pula dalam wadag gede (jagad raya). Dalam antropologi biologis, dipahami bahwa tubuh manusia terdiri dari atom, molekul, jaringan dan organ-organ yang membentuk individu manusia. Atom-atom dalam tubuh manusia juga terdapat di bulan, bintang dan berbagai planet di galaxy, seperti misalnya carbon dan nitrogen. Setelah manusia meninggal, raganya akan terurai menjadi debu-debu atom yang kembali menyatu dengan alam. Hanya bangsa yang dapat menghargai pemikir-pemikirnya bisa menjadi bangsa sejahtera dan berjaya. Sudah saatnya kita mempelajari dengan sungguh-sungguh apa yang baik dan bermakna, yang diwariskan oleh nenek moyang kita yang sejatinya adalah jati diri kita.

Joni Candra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s