Gotong-Royong Sejahterakan Gunung

Festival Gunung Salak (16, 17, 18 Oktober 2008) di Desa Cihideung Udik, Ciampea, Bogor

Belum lama berselang sebuah peristiwa budaya yang bernafaskan revitalisasi budaya gotong royong sebagai sebuah senjata kerifan lokal dalam menghadapi globalisasi ekonomi  digelar di kaki gunung Salak dengan ‘meminjam’ momentum Hari Pangan Sedunia (World Food Day, 16 Oktober 2008) dan Hari Penghapusan Kemiskinan Internasional (International Day for the Eradication of Poverty, 17 Oktober 2008).

Kerusakan Gunung Salak

Gunung ini mempunyai beberapa puncak, di antaranya Puncak Salak I dan Salak II. Letak geografis puncak gunung ini ialah pada 6°43′ LS dan 106°44′ BT. Tinggi puncak Salak I 2.211 m dan Salak II 2.180 m dpl, dan puncak ketiga bernama Puncak Sumbul dengan ketinggian 1.926 m dpl. Secara administratif, Gunung Salak termasuk dalam wilayah Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Gunung ini memiliki kekayaragaman flora seperti tusam (Pinus merkusii) dan rasamala (Altingia excelsa). Dan seperti umumnya hutan pegunungan bawah di Jawa, terdapat pula jenis-jenis pohon puspa (Schima wallichii), saninten (Castanopsis sp.), pasang (Lithocarpus sp.) dan aneka jenis huru (suku Lauraceae) di hutan pegunungan bawahnya (submontane forest). Bahkan dibeberapa lokasi hutan pegunungan atas (montane forest) terutama di arah Cidahu, Sukabumi, ditemukan pula jenis tumbuhan langka raflesia (Rafflesia rochussenii). Pada daerah-daerah perbatasan dengan hutan, atau di dekat-dekat sungai, orang menanam jenis-jenis kaliandra merah (Calliandra calothyrsus), dadap cangkring (Erythrina variegata), kayu afrika (Maesopsis eminii), jeunjing (Paraserianthes falcataria) dan berbagai macam bambu. (sumber: Wikipedia)

Aneka margasatwa juga ditemukan di lingkungan Gunung Salak, mulai dari kodok dan katak, reptil, burung hingga mamalia. Hasil penelitian D.M. Nasir (2003) dari Jurusan KSH Fakultas Kehutanan IPB, mendapatkan 11 jenis kodok dan katak di lingkungan S. Ciapus Leutik, Desa Tamansari, Kabupaten Bogor. Jenis-jenis itu ialah Bufo asper, B. melanostictus, Leptobrachium hasseltii, Fejervarya limnocharis, dan R. hosii. Di Cidahu juga tercatat adanya jenis bangkong bertanduk (Megophrys montana) dan katak terbang (Rhacophorus reinwardtii). Berbagai jenis reptil, terutama kadal dan ular, terdapat di gunung ini. Beberapa contohnya adalah bunglon Bronchocela jubata dan B. cristatella, kadal kebun Mabuya multifasciata dan biawak sungai Varanus salvator. Jenis-jenis ular di Gunung Salak belum banyak diketahui, namun beberapa di antaranya tercatat mulai dari ular tangkai (Calamaria sp.) yang kecil pemalu, ular siput (Pareas carinatus) hingga ular sanca kembang (Python reticulatus) sepanjang beberapa meter. Gunung Salak telah dikenal lama sebelumnya sebagai daerah yang kaya burung, sebagaimana dicatat oleh Vorderman (1885). Hoogerwerf (1948) mendapatkan tidak kurang dari 232 jenis burung di gunung ini (total Jawa: 494 jenis, 368 jenis penetap). Beberapa jenis yang cukup penting dari gunung ini ialah elang jawa (Spizaetus bartelsi) dan beberapa jenis elang lain, ayam-hutan merah (Gallus gallus), dan burung kuda Garrulax rufifrons. Sebagaimana halnya reptil dan kodok, catatan mengenai mamalia Gunung Salak pun tidak terlalu banyak. Akan tetapi di gunung ini jelas ditemukan beberapa jenis seperti macan tutul (Panthera pardus), owa jawa (Hylobates moloch), lutung surili (Presbytis comata) dan tenggiling (Manis javanica) (Wikipedia). Namun kekayaan flora dan fauna tersebut semakin terdesak dengan adanya pengalihan fungsi hutan.

Hal ini juga diperparah dengan adanya pencurian kayu, penambang emas liar, vandalisme pengunjung, pembuangan sampah sembarangan, serta perburuan liar satwa yang dilindungi di Taman Nasional Gunung Salak dan Halimun, yang disahkan menurut SK Menteri Kehutanan No. 175 Tahun 2003. SK tersebut berisi tentang perubahan fungsi kawasan hutan lindung, hutan produksi tetap, hutan produksi terbatas pada kelompok hutan Gunung Halimun dan kelompok hutan Gunung Salak seluas 113.357 (seratus tiga belas ribu tiga ratus lima puluh tujuh) hektar di provinsi Jawa Barat dan provinsi Banten menjadi Taman Nasional Gunung Halimun-Salak, sebelumnya pengelolaan kawasan hutannya berada di bawah Perum Perhutani KPH Bogor.

Sementara wilayah Gunung Salak seperti kebanyakan gunung-gunung yang tersebar di pulau Jawa dan pulau-pulau lainnya di Indonesia, semakin mengalami kerusakan dengan maraknya praktek pembalakan liar dan pengalihan fungsi hutan menjadi fungsi hunian. Sehingga hal ini mengakibatkan erosi dan banjir bandang di kota-kota di bawahnya. Di musim hujan sungai-sungai seperti sungai Cihideung, sungai Cinangneng dan sungai Ciliwung membawa air bah yang tidak lagi dapat ditahan karena penggundulan hutan di hulunya. Sementara itu fenomena pemanasan global telah meninggikan permukaan laut sehingga peta pulau Jawa sepertinya harus segera digambar ulang karena batas pantai semakin masuk jauh ke wilayah daratan pulau.

Penurunan Produktivitas Pertanian Kaki Gunung Salak

Sedangkan Kaki Gunung Salak merupakan daerah pertanian yang semakin menyempit dalam ukuran serta mengalami berbagai kerusakan yang bermuarakan kepada melemahnya ketahanan pangan di kota-kota yang disangganya, dalam hal ini adalah wilayah JADEBOTABEK (Jakarta-Depok-Bogor-Tangerang-Bekasi). Pertanian organik telah berkembang turun temurun di wilayah ini seperti yang dapat kita jumpai pada perayaan upacara adat Seren Taun, yaitu upacara penyampaian rasa sukur bagi pelimpahan berupa sayuran (kangkung, bayam, katu, cesin, sawi), buah-buahan (jambu air, jambu klutuk, durian, rambutan)  dan umbi-umbian seperti kentang, ubi, talas, bengkuang, singkong (Sikep hejo buah beti) sekaligus pengharapan hasil yang sama di musim tahun depannya. Namun dewasa ini pengadaan air yang menjadi syarat vital pertanian semakin berkurang sejalan dengan eksploitasi besar-besaran air bersih, sehingga produktivitas hasil pertanian di kaki Gunng Salak turun drastis.

Hari Pangan Sedunia (World Food Day, 16 Oktober)

Seperti setiap 16 Oktober selama 27 tahun belakangan ini, Hari Pangan Sedunia (World Food Day, 16 Oktober) yang merupakan hari jadi dari FAO (Food and Agriculture Organization) sebuah badan pangan dari PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa), sepatutnya kembali diperingati diseluruh penjuru dunia tidak terkecuali di lumbung pangan Kaki Gunung Salak untuk selalu mengingatkan kesemua pihak akan ketahanan pangan diatas kepentingan ekonomi. Gunung ini selama ratusan tahun telah menjadi lumbung pangan bagi masyarakat di ‘bawahnya’. Hal ini dapat dicermati dari jejak-jejak sejarah sejak masa penindasan VOC, wilayah Darmaga, saat itu memang benar-benar dermaga perdagangan bahan pangan seperti padi, kelapa maupun ternak yang kemudian dialirkan ke muaranya yaitu Batavia. Namun saat ini penanganan sektor pertanian dirasa kurang berpihak kepada petani seperti tidak adanya proteksi bagi produk pertanian yang masuk ke Indonesia dan kurangnya subsidi bagi pertanian nasional. perjanjian di AoA (Agreement on Agriculture) yang disepakati pemerintah di WTO benar-benar merusak pertanian nasional.

Hari Penghapusan Kemiskinan Internasional (International Day for the Eradication of Poverty, 17 Oktober)

1 miliar orang berjuang untuk hidup dengan pendapatan di bawah 1 dolar AS per hari, 114 juta anak tidak mempunyai akses terhadap pendidikan dasar dan 584 juta perempuan masih buta huruf, 11 juta lebih balita meninggal setiap tahun karena penyakit yang dapat dicegah. Temuan UNICEF tentang peningkatan balita gizi buruk di Indonesia dari 1,8 juta jiwa di tahun 2004 menjadi 2,3 juta jiwa anak pada tahun 2005. Pengangguran terbuka mencapai 10,55 juta orang, ledakan kemiskinan yang pada tahun 2006 saja jumlahnya mencapai 128,94 juta orang. Produktifitas pertanian yang berakumulasi dengan krisis energi dan krisis ekonomi saat ini semakin memiskinkan masyarakat di wilayah Gunung Salak saat ini sudah berdampak pada penurunan kualitas, kesehatan, kualitas pendidikan serta merebaknya kriminalitas dan prostitusi. Maka, peringatan Hari Penghapusan Kemiskinan Internasional (International Day for the Eradication of Poverty) tahun ini seharusnya tidak hanya berupa peringatan, namun harus telah melakukan pemetaan masalah, perumusan solusi kemudian berujung pada tindakan kongkrit yang dapat mengarah pada upaya-upaya pemakmuran masyarakat.

Dari akumulasi permasalahan di atas, mengharuskan kita untuk bertindak secara komprehensif dengan melibatkan seluas mungkin kelompok masyarakat untuk terlibat dalam berupaya untuk merumuskan pemecahannya secara bbersama-sama, bergotong royong. Hal ini akan sangat bermanfaat dan efisien apabila kita menggunakan metode yang menyentuh akar permasalahan dengan meningkatkan kesadaran masyarakat melalui bentuk-bentuk adat istiadat masyarakat lokal setempat. Maka perlu adanya penyelenggaraan semacam festival yang mengangkat permasalahan dan potensi Gunung Salak serta mengembalikan kearifan lokal sebagai pemecahan masalah yang ada, salah satunya dalah budaya gotong royong.

Revitriyoso Husodo

(Program Manager Budaya & Kampanye IGJ)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s