Menjelang Arakan Tradisi di Gunung Salak

Oleh
Dwin Gideon

Jakarta – Mengusung kebijakan tradisi lokal termasuk seni dan kebudayaan. Itu yang akan digelar oleh masyarakat di sekitar Gunung Salak. Di tepi sebuah kolam, akan digelar suasana festival yang dilangsungkan secara tradisional dan alami, dengan tetap menampilkan keindahan panorama Gunung Salak.

Panggung budaya di Festival Gunung Salak itu digelar oleh Institute for Global Justice bekerja sama dengan Bumi Bagus Production, akan dipusatkan di Desa Cihideung Udik, Ciampea, Bogor mulai 16 hingga 18 Oktober. Acara ini akan digelar di tepi kolam berlatar Gunung Salak. Di momen pembukaan akan ditampilkan sinden Gunung Salak. Sindennya itu seolah bernarasi dan memaparkan setiap acara. Setiap hari, dia akan muncul tiga kali.

”Dia akan bicara tentang kearifan lokal, bagaimana gunung harus ditanam pohon, lereng harus ditanam bambu, datar ditanami padi, terus kalau cekungan tanamilah ikan. Ditembangkan dalam bahasa Sunda. Akhir kata-kata sinden itu pun akan diubah pada akhir kalimatnya. Salah satunya mengkritik praktik kehidupan sekarang, di mana pada akhirnya si sinden pun mengkritik bahwa kini, lereng ‘ditanami’ vila, gunung malah untuk mengambil air danau,” papar Juru Bicara Panitia Revitriyoso Husodo, dalam jumpa pers yang berlangsung di Kantor Institute Global Justice, Jakarta, Kamis (25/9).

“Masyarakat akan menggelar kesenian yang ada di situ, mulai dari parade Calung dan angklung oleh anak sekolah juga penduduk setempat. Pada momen itu juga akan digelar ‘kolecer’ – baling-baling bambu – yang sudah hampir punah,” ujar Revitriyoso dalam sebuah momen jumpa pers yang digelar di Institut Global Justice di Jakarta.

Setiap malam, akan ada pemutaran film yang disajikan seperti layar tancep di tengah sawah. “Puncaknya kita tampilkan fenomena musik di masyarakat yang merupakan gabungan antara pentatonik-diatonik perkusi lokal yang menjadi pong-dut (jaipong-dangdut, red). Perkusi lokal (gendang lokal), dangdut India, digabungkan sehingga suaranya pun jadi unik,” ujar lelaki yang biasa disapa Revi itu. Calung tak hanya berasal dari penduduk di Desa Cihideung Udik, Ciampea Bogor. Ada juga Degung Cinangmeng, sebagai instrumen khas lainnya dari wilayah itu.

Selain itu yang akan “manggung” adalah kelompok dari Padepokan Seni Budaya Giri Sundapura. “Tokoh Padepokan Maki Sumawijaya, akan kita undang dalam Musyarawah Gunung. Kita juga akan undang Cinta Laura, yang sempat bikin sekolah di sana,” ujar Revi.

“Kami juga akan mencoba mempertemukan antara pemerintah daerah setempat dengan warga Gunung Salak,” kata Revi. Bila tidak ada halangan, panitia berencana menjadikan acara yang baru pertama kali digelar ini, permulaan kegiatan tahunan Festival Gunung Salak. Rencananya, Gubernur Jawa Barat akan diundang untuk membuka dan menghadiri festival ini juga berbagai kelompok tokoh adat, petani, mahasiswa, pencinta alam, wakil pemerintah, pencinta lingkungan hidup, aktivis kemanusiaan, seniman, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM).

“Gunung yang Kaya”

Gunung Salak berada di antara tiga kabupaten dan dua provinsi berbeda. Pada sisi timur, subbudaya Sukabumi dari Gunung Salak, itu berbeda dengan Kabupaten Bogor. Sedangkan di sisi barat, adalah Provinsi Banten. “Itu saling berbeda. Karena di wilayah pegunungan, meski satu rumpun suku tapi sebenarnya perbedaan kultur juga muncul. Karakter Sukabumi Selatan misalnya, lebih resisten terhadap modernisasi. Di peta, wilayah ini dibentengi Gunung Gede, Salak dan Halimun.

“Di wilayah Gunung Salak dulunya abad ke 15-16 masih ada kebudayaan Pajajaran, sehingga Belanda pun sulit menembus wilayah itu karena masih wilayah Kasepuhan dan Kanoman, bahkan arkeologi situs purbakala yang paling luas di Indonesia itu berada di (situs) Cengkuk. Sedangkan sisi Utara Gunung Salak sudah mulai dirambah Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) sehingga lebih modern,” ujarnya.

Taman Nasional Gunung Salak adalah salah satu cagar alam yang paling kaya dalam hal keanekaragaman flora dan faunanya. Namun, akibat perilaku manusia yang tidak peduli dengan kelestariannya, kekayaan Taman Nasional Gunung Salak pun mulai surut. n

Sumber: Sinar Harapan, 27 September 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s