SENI RUPA LUDAH PINANG PAPUA: “LUDAH KAMI, HAK KAMI”

"Ludah Kami"

Revitriyoso husodo

Ludah pinang dapat digunakan sebagai media berekspresi dalam seni rupa perlawanan terhadap pelanggaran HAM di Papua. Menggunakan ludah limbah tradisi mengunyah pinang dapat diparalelkan dengan mengkritisi dengan kreatif tentang penanganan mengkonsumsi pinang bukan tradisinya yang harus dilarang seperti tanda larangan yang tertempel di tempat-tempat strategis  bandara Sentani, Jayapura, namun sebaliknya membudayakan tradisi ini dengan aturan yang benar misalnya penganjuran dalam menjaga kebersihannya. Lebih jauh, pemerintah harus menyediakan tempat ludah yang mudah diakses di ruang-ruang publik, misalnya.

Tradisi Mengkonsumsi Pinang

Tradisi mengunyah dan meludah pinang (andrographis paniculata) dengan kulit kerang bakar sebagai kapur campurannya sudah merupakan kebiasaan di berbagai kebudayaan termasuk pada masyarakat Papua. Kearifan lokal ini tidak hanya memiliki aspek kesehatan seperti pembersih dan penguat gigi, namun juga menjadi tradisi hidangan penyambutan dan penghormatan bagi tamu di masyarakat Papua. Karenanya terbentuk nilai di masyarakat tersebut, orang yang berkebiasaan mengunyah pinang dianggap sebagai orang yang ramah dan mudah bergaul. Dengan demikian maka mengunyah pinang dapat dikatakan merupakan identitas budaya papua.

Teknik Media Lukis

Hal ini dapat dijadikan analogi dalam menegakkan hak setiap masyarakat untuk mendapatkan kesejahteraan dan rasa aman. Dan menggunakan ludah pinang untuk mengekspresikan hak-hak mendasar melalui karya seni dapatlah dijadikan perayaan perjuangan untuk mendapatkan hak-hak mendasar setiap manusia dan setiap komunitas. Warna merah tanah ludah yang merupakan senyawa  antara pinang, kapur dan ludah si pekarya memiliki kekhasan karena berbeda dengan warna-warna saturated yang dihasilkan oleh bahan-bahan kimia pewarna pada cat minyak maupun tinta warna. Hal ini akan merepresentasikan identitas seni kontemporer yang berakar pada tradisi lokal ketimbang seni menggunakan media pabrikan. Hal ini diperkuat dengan bukti bahwa karya juga membawa DNA yang ada pada ludah pelukis sebagai track record siapa dan dalam situasi kesadaran seperti apa sipekarya membuat karya.

Untittled

Aspek teknik pembuatan lukisannya dengan campuran antara diludahkan/dimuntahkan (dengan dibantu penggunaan alat bantu seperti kuas dan mungkin palet) akan menghasilkan subjek gambar yang lebih lugas dan wajar dalam mengekspresikan hentakan emosi si pekarya. Sekali waktu nanti, apabila ditemukan teknik ataupun metode dalam mengukur ekspresifitas dalam hubungan emosional dalam mengunyah dan meludahkan ludah,  maka akan terlihat perbedaan ekspresi antara  perupa pesanan penindas, seniman abstrak liar dan pekerja seni yang mengusung isu penegakkan HAM. Sehingga lukisan tidaklah dapat dikelompokkan pada genre lukisan abstrak seperti karya-karya Jackson Pollock dan pelukis abstrak lainnya yang memiliki kemiripan teknik dalam berkarya.

About these ads

4 thoughts on “SENI RUPA LUDAH PINANG PAPUA: “LUDAH KAMI, HAK KAMI”

  1. saya senang dengan tulisan seperti ini, artikelnya bagus karena didukung dengan informasih yang relevan dengan SIKON dan perilaku masyarakat Adat Papua karena pengaruh pluralisme budaya masyarakat Adat Papua di zaman globalisasi saat ini. Namun saya menaggapi bahwa budaya masyarakat Adat Papua yang sekarang terlihat menyimpang dari budaya yang sebenarnya. Mengapa? karena menurut saya masyarakat Adat Papua belum mampu menerima perubahan pembangunan dan tantangan globalisasi (kemajuan ilmu pengetahuan dan tehknologi) saat ini. Jika kebiasaan mengunya pinang saat ini dipandang sebagai tradisi masyarakat Adat Papua maka itu adalah sesuatu yang keliru untuk masa lalu masyarakat Papua. Mengapa? karena Papau yang lalu budaya mengunya pinang dikenal sebagai tradisi masyarakat Adat Papua bagian pesisir pantai tanah Papua. Jadi menurut saya jika ingin mengangkat budaya harus memahami budaya masyarakat Papua yang sebenarnya. Mengapa? karena jika ingin mengetahui budaya masyarakat Adat Papua dengan melihat situasi dan kondisi masyarakat Adat Papua saat ini untuk menjadi referensi budaya Papua akan kontradiktif dengan budaya masyarakat adat Papua yang murni karena sekarang budaya masyarakat Papua sudah plural dengan budaya-pudaya lain maupun sesama budaya masyarakat Adata Papua. Terimakasih sudah mau berpartisipasi untuk membangun tanah Papua menjadi yang lebih baik.

  2. Betul…. Itu tradisi, tapi banyak orang yang tratw kebersihan ludah sambarang tuh yang bikin kabur air.. klw kreatif bgini kan semua suka..

  3. INFO :
    Bersama informasi ini saya lampirkan petunjuk teknis serta beberapa berkas-berkas pendukung kegiatan tsb. Kami harapkan partisipasi rekan-rekan sekalian. Terima kasih.

    Pameran Seni Rupa Nusantara 2011
    “Imaji Ornamen”

    TEMA : “Imaji Ornamen”

    WAKTU : 19 Mei – 29 Mei 2011
    PERESMIAN : Kamis, 19 Mei 2011
    pukul : 19.00 WIB – selesai

    Pameran akan diresmikan oleh :
    Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI
    Bpk. Ir. Jero Wacik, MBA

    TEMPAT : Galeri Nasional Indonesia, Jakarta

    KARYA : Lukisan, Patung, Seni Cetak, Fotografi, Video Art, Object, Instalation Art

    PESERTA :
    Calon peserta terdiri dari para perupa yang perorangan atau kelompok dari berbagai wilayah di Indonesia, berdasarkan proses seleksi tim kurator dan juga berdasarkan undangan khusus dari pihak Galeri Nasional Indonesia.

    TIM KURATORIAL : Kuss Indarto (curator)
    Eddy Susilo (exhibition coordinator)

    Email : pameran.nusantara2011@gmail.com

    Untuk Info Lebih Lanjut http://www.galeri-nasional.or.id

    Salam,
    Panitia Pameran Nusantara 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s